Beranda Habar Kalteng Diabadikan Sebagai Nama Jalan...

Diabadikan Sebagai Nama Jalan Hingga Dibuatkan Patung Prasasti, Ini Sejarah dan Sosok Panglima Batur

Terbaru

Nama Panglima Batur seperti tidak asing lagi di telinga penduduk pulau Kalimantan, khususnya di beberapa Provinsi di Kalimantan yang nama jalannya diambil dari nama Panglima Batur.

Bahkan di salah satu Provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Tengah sosok Panglima Batur bahkan diabadikan menjadi suatu Monumen Patung Prasasti yang menjulang tinggi.

Berdasarkan penelusuran tercatat nama Jalan Panglima Batur digunakan pada 9 kota yang berada di 3 provinsi Kalimantan, yaitu Banjarmasin, Banjarbaru, Kandangan dan Marabahan di Kalimantan Selatan; Palangkaraya, Kuala Kapuas, Muara Teweh dan Puruk Cahu di Kalimantan Tengah; serta di Samarinda, Kalimantan Timur.

PicsArt 07 26 07.58.54

Namun, siapakah sosok Panglima Batur yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di banyak kota di Pulau Kalimantan ini? Hingga diabadikan menjadi sebuah prasasti berbentuk patung di Kalimantan Tengah?

Seorang Panglima suku Dayak Bakumpai

WhatsApp Image 2021 03 25 at 09.21.53

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, Panglima Batur adalah adalah seorang panglima suku Dayak Bakumpai yang berperang melawan kekuasaan Hindia Belanda di pedalaman Barito dalam laga Perang Barito, yang tidak lain merupakan kelanjutan dari Perang Banjar yang pecah pada tahun 1859.

Memiliki nama asli Batur bin Barui, salah satu panglima Dayak yang telah beragama islam dan setia pada Sultan Muhammad Seman (Mat Seman), penerus Pangeran Antasari ini lahir pada tahun 1852 di Buntok Baru, yang saat ini termasuk dalam Kabupaten Barito Utara.

Gelar Panglima yang disematkan pada namanya pada masa itu menunjukkan dirinya adalah kepala yang mengatur keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya.

Dalam tradisi suku-suku Dayak, seorang yang mendapatkan gelar Panglima adalah orang yang paling pemberani, cerdik, berpengaruh dan biasanya kebal.

Dalam riwayat Perang Barito, Panglima Batur berperang di sisi Pagustian, penerus Kerajaan Banjar yang dipimpin oleh Sultan Mat Seman ini turut serta mempertahan kan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan melawan Belanda.

Suatu ketika Panglima Batur mendapat perintah dari Sultan Mat Seman untuk pergi ke Kesultanan Pasir dengan tujuan meminta bantuan persenjataan berupa mesiu yang sedianya akan digunakan melawan Belanda.

Melawan Pasukan khusus Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL)

Ketika Panglima Batur berada di Kesultanan Paser, pada bulan Januari tahun 1905, Benteng Manawing diserbu oleh Pasukan Marsose (Marechausse) yang terkenal ganas dan bengis di bawah pimpinan Letnan Christofel.

Dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan pasukan khusus Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang sudah makan asam garam dalam perang Aceh ini, Sultan Mat Seman tertembak dan gugur dalam Pertempuran Benteng Manawing.

Ketika kembali ke Benteng Manawing, Panglima Batur sedih menyaksikan benteng tersebut musnah dan pimpinannya, Sultan Mat Seman gugur.

Kemudian ia dan teman seperjuangannya, yaitu Panglima Umbung pulang ke kampung halaman mereka masing-masing, namun hal tersebut tidak memudarkan semangat Panglima Batur untuk bertahan dalam perjuangan karena terkenal sangat teguh dengan pendiriannya dan sangat patuh dengan sumpah yang telah diucapkannya.

Miliki Sifat Mudah Terharu dan Bersedih

Panglima Batur memiliki sifat mudah terharu dan sedih jika melihat anak buahnya atau keluarganya yang jatuh menderita, hal ini yang kemudian hari menjadi kelemahannya dan dimanfaatkan dengan baik oleh Belanda untuk menjebaknya.

Ketika ada upacara adat perkawinan kemenakan Panglima Batur di kampung Lemo, saat itulah serdadu Belanda menangkap seluruh anggota keluarganya yang berkumpul, termasuk pasangan mempelai yang sedang bersanding.

Keluarganya yang dimasukkan ke dalam tahanan atas perintah Residen Belanda van Wear tersebut kemudian dipukuli dan disiksa tanpa perikemanusiaan, tujuannya untuk menjebak Panglima Batur.

Belanda kemudian berupaya menangkap Panglima Batur melalui perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupunya yang menyampaikan pesan, yaitu jika Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan berunding dengan Belanda, keluarganya yang ditahan akan dikeluarkan dan dibebaskan.

Tetapi jika Panglima Batur tetap berkeras kepala, keluarganya yang tahanan tersebut akan ditembak mati, hal ini tentu saja membuatnya gundah dan sadar kemudian bertekad lebih baik ia yang menjadi korban sendirian daripada keluarganya yang tidak berdosa.

Panglima Batur diiringi oleh orang-orang sekampungnya berangkat ke Muara Teweh pada 24 Agustus 1905, namun bukannya perundingan, ia malah terkena tipu muslihat Belanda dan ditangkap sebagai tawanan, kemudian dihadapkan ke meja pengadilan.

Dijatuhi Hukuman Mati

Setelah menjalani penawanan selama 2 pekan di Muara Teweh, Panglima Batur dibawa dengan kapal menuju Banjarmasin untuk dijatuhi hukuman mati.

Di kota Seribu Sungai, Panglima Batur diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa ia adalah pemberontak yang keras kepala dan akan segera dijatuhkan hukuman mati.

Akhirnya pada 15 September 1905, nasib Panglima Batur berakhir di tiang gantungan dengan permintaan terakhir yang diucapkannya adalah minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat.

Setelah gugur di tiang gantungan, Panglima Batur dimakamkan di belakang masjid Jami Banjarmasin, kemudian jenazahnya dipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjar yang berada tak jauh dari sana pada 21 April 1958.

Di Komplek Makam Pahlawan Banjar ini, makam Panglima Batur berada satu komplek dengan Pangeran Antasari dan istrinya serta pahlawan Ampera daerah, Hasanuddin bin Haji Madjedi, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang meninggal dunia tahun 1966.

Diangkat menjadi Pahlawan Nasional

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri mengusulkan Panglima Batur diangkat menjadi Pahlawan Nasional saat menggelar seminar pengusulan Panglima Batur sebagai Pahlawan Nasional di Hotel Luansa, Palangka Raya pada 27 September 2011.

Panglima Batur diusung dan diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya yang sangat besar dalam mengangkat panji-panji perjuangan melawan Belanda di daerah hulu sungai Barito.

Akan tetapi hingga saat ini, usulan menjadikan putra asli Barito Utara tersebut menjadi Pahlawan Nasional belum mendapat pengakuan dari Pemerintah Pusat.

Masyarakat setempat pun memberikan penghormatan dengan membangun Monumen berupa Patung sosok Panglima Batur di Kompleks Taman Seribu Riam yang berada di pinggir jalan raya Muara Teweh-Ampah, Barito Utara.

Sosok Panglima Batur sendiri masih dikenang mendalam oleh warga Barito Utara, salah satunya adalah Sayyid Maulana Ahmad.

IMG 20200725 WA0022

Putra daerah Barito Kuala yang berdomisili di Kota Banjarbaru saat ini mengatakan sosok Panglima Batur di tengah masyarakat Barito Kuala selalu menjadi inspirasi dan motivasi, khususnya di masyarakat Muara Teweh.

“Sebagai seorang Panglima pada saat perang Barito, kisah beliau selalu diceritakan orang tua secara turun temurun hingga pada generasi-generasi muda. Kini Panglima Batur menjadi patokan dalam menjalankan tatanan kehidupan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah di Barito Utara,” ungkapnya.

Dikenang Karena Jasanya

Karena perannya tersebut, bagi Sayyid Maulana Ahmad sangat wajar jika Panglima Batur dikenang oleh masyarakat Kalimantan, bukan hanya masyarakat Barito Utara saja.

“Sehingga wajar kalau Panglima Batur diabadikan menjadi sebuah monumen berupa patung atau menjadi nama jalan di beberapa kota di Kalimantan serta dikenang dalam tulisan-tulisan sejarah,” sebutnya.

Sama halnya menurut Hery atau yang akrab disapa Engkoh, menurut hery Panglima Batur sangatlah disanjung dan dihormati khususnya oleh masyarakat Barito Utara, karena Panglima Batur berjasa dalam mengusir/melawan para penjajah pada masa kolonial.

IMG 20200726 WA0010

“Panglima Batur Sangat berjasa banget, apalagi bagi masyarakat Barito Utara nya, sosok Panglima Batur kerap diceritakan sebagai pengantar tidur di Kabupaten Barito Utara khususnya,” tutupnya.

WhatsApp Image 2021 03 25 at 09.21.53

Trending Minggu Ini

Ungkap 59 Tersangka Narkoba, Polres Banjar Tertinggi Di Kalsel

Satuan Narkoba Polres Banjar beserta Jajaran dari 14 Polsek yang ada di Kabupaten Banjar berhasil mengamankan 59 orang tersangka kasus narkoba selama pelaksanaan Operasi...

Guru Di Banjar: Kami Ini Pendidik Kenapa Dianak Tirikan

Sebagian Besar Guru tingkat Sekolah Dasar(SD) dan tingkat Sekolah Menengah Pertama(SMP) yang ada di Kabupaten Banjar mengeluhkan Perbedaan antara Kabupaten Banjar dengan Daerah lainnya di Kalimantan...

Teluk Tamiang Yang Bikin Mabuk Kepayang

HABAR KALIMANTAN - Tak kalah indah dengan wisata yang ada di luar Kalimantan Selatan, wisata Pantai Teluk Tamiang Desa Teluk Tamiang Kecamatan Tanjung Selayar...

Kamu mungkin juga suka

Cetak Generasi Unggul Dengan Program Beasiswa PF Prestasi

Pertamina Foundation mendukung terciptanya generasi unggul melalui program beasiswa PF prestasi. Tahun ini jumlah kuota penerima ditingkatkan, tidak hanya dari program S1 Reguler melainkan...

Bupati Balangan Akan Kembalikan Tunjangan Guru

Melalui Konferensi Kerja Kabupaten (Konferkab) Pertama, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Balangan, diharapkan dapat membawa perubahan untuk kualitas Pendidikan.Hal ini disampaikan Bupati Balangan...

BTIKP Luncurkan Wahana Luar Angksa, Wahana Virtual Reality dan Radio Edukasi...

Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Provinsi Kalsel meluncurkan pelayanan baru yaitu wahana luar angksa, wahana virtual reality dan radio edukasi banua pada hari Kamis 18...

Bupati Banjar Tampung Aspirasi FKPI Banjar

Tim dari Forum Komunikasi Pendidikan Inklusi Kabupaten Banjar,  melakukan audiensi dengan Bupati Banjar H. Saidi Mansyur di lantai I Mahligai Sultan Adam Martapura, Rabu...