Banjarmasin — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut (Tala), dr. Isna Farida, menegaskan pentingnya memasukkan aspek kesehatan mental dalam strategi penanganan stunting di daerah. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri rapat teknis lintas sektor percepatan penurunan stunting yang digelar di Calamus Ballroom, Rattan Inn Hotel, Banjarmasin, Kamis (7/8).
Dalam wawancara usai kegiatan, dr. Isna menyampaikan keprihatinannya terhadap stigma yang masih melekat di masyarakat terkait isu kesehatan mental. Ia menyebut banyak pihak masih menganggap kesehatan mental hanya berkaitan dengan gangguan jiwa berat, padahal dampaknya jauh lebih luas, terutama dalam konteks keluarga dan pengasuhan anak.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa kesehatan mental itu bukan berarti gila. Ini soal bagaimana ibu bisa berpikir jernih, merasa tenang, dan merawat anaknya dengan stabil secara emosional,” ujar dr. Isna.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut, kata dia, saat ini tengah mendorong pemahaman baru bahwa faktor emosional dalam keluarga memiliki keterkaitan langsung dengan risiko stunting. Ia menyebut, anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh tekanan atau ibu yang mengalami stres berkepanjangan, berpotensi mengalami hambatan tumbuh kembang, termasuk gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif.
“Anak yang diasuh oleh ibu yang stres atau tidak mendapat dukungan emosional cenderung mengalami gangguan pola makan, pengasuhan tidak konsisten, bahkan bisa luput dari pemantauan tumbuh kembang,” jelasnya.
dr. Isna juga menyatakan bahwa Pemkab Tala telah berkomitmen mengintegrasikan pendekatan psikososial dalam program-program intervensi stunting, terutama pada kelompok keluarga berisiko. Menurutnya, penyelesaian stunting tidak bisa hanya dilakukan dengan perbaikan gizi, tetapi juga membutuhkan ketenangan psikologis dalam keluarga.
“Kami percaya bahwa sehat itu bukan hanya tubuh yang kuat, tapi juga pikiran yang tenang dan batin yang damai. Jika ingin generasi yang kuat, kita harus mulai dari mental yang sehat,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tala, prevalensi stunting di daerah tersebut terus menunjukkan tren penurunan. Namun demikian, dr. Isna menilai, keberhasilan penanganan stunting ke depan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan kesadaran masyarakat untuk terbuka terhadap isu kesehatan mental.

