BANJARBARU – Kesuksesan Gala Premier film “Saru 2” yang digelar di Cinepolis Grand Qin, Banjarbaru, Sabtu (20/12/2025), tidak lepas dari kerja keras tim produksi dalam meramu visual yang apik di tengah keterbatasan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar, H. Irwan Jaya, mengungkapkan alasan strategis di balik pemilihan film sebagai media promosi. Menurutnya, kekuatan visual menjadi kunci daya tarik wisata di era saat ini.
”Karena kita tahu semua orang suka menonton dan melihat visual. Dengan tontonan yang menarik, visual yang indah, serta kemasan yang kreatif, ini akan menjadi daya tarik tersendiri,” ujar Irwan.
Terkait biaya produksi, Irwan bersikap transparan. Ia menyebutkan bahwa film ini diproduksi menggunakan anggaran APBD sebesar Rp200 juta. Jumlah ini sama dengan anggaran produksi film sebelumnya, namun dikelola dengan strategi efisiensi yang ketat.
”Angka ini terbilang cukup ketat karena kami sedang melakukan efisiensi, sehingga lokasi syuting pun terbatas. Selain itu, para pemain film banyak yang merangkap posisi lain, ada yang sekaligus menjadi sutradara maupun kru film,” jelasnya. Dengan strategi tersebut, Irwan berharap hasil yang disajikan tetap maksimal meski dengan dana terbatas.
Di sisi kreatif, Sutradara “Saru 2”, Syamsul Alam, menceritakan dinamika proses produksi yang memakan waktu syuting selama 8 hari dan pascaproduksi lebih dari satu bulan.
Syamsul mengakui produksi kali ini terasa “lebih berwarna” dibandingkan sekuel pertamanya. Jika “Saru 1” lebih sederhana, “Saru 2” hadir dengan peningkatan kualitas teknis namun dengan tantangan manajemen yang lebih rumit.
”Kali ini di Saru II kami menggunakan kru yang lebih banyak dan peralatan yang lebih proper. Tentu saja, ini melahirkan banyak cerita di lapangan. Kami harus menyesuaikan situasi, berkejaran dengan cuaca, hingga manajemen waktu,” Jelas syamsul.
Ia juga menjelaskan pergeseran genre yang cukup signifikan. Jika film pertama bernuansa petualangan, “Saru 2” lebih menonjolkan drama keluarga dengan pesan moral yang kuat.
”Pesan utamanya adalah tentang bagaimana memegang teguh sebuah janji kepada siapa pun. Film ini banyak bercerita tentang upaya memenuhi janji serta kasih sayang orang tua kepada anaknya,” Ia menambahkan.
Menutup wawancara, Syamsul menjawab rasa penasaran publik mengenai asal-usul judul film garapannya. “Simpel saja, itu diambil dari kata ‘Saruan,’ pungkasnya.
Dalam bahasa Banjar, “saruan” artinya ajakan, ajakan untuk bergabung, atau undangan untuk melakukan sesuatu bersama-sama, seringkali dalam konteks kegiatan makan bersama atau acara sosial
Pihak Disbudporapar berharap, dengan respons positif terhadap dua film ini, strategi promosi wisata melalui media film dapat berlanjut ke produksi “Saru 3”.


