BerandaHabar BanjarBanjir Masuki Pekan Keempat,...

Banjir Masuki Pekan Keempat, Pemkab Banjar Waspadai Lonjakan Kasus Diare dan Penyakit Kulit

Terbaru

MARTAPURA — Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar kini telah bertahan hingga memasuki pekan ketiga dan keempat. Durasi genangan yang cukup panjang ini memicu kekhawatiran serius terkait penurunan kualitas sanitasi lingkungan yang berpotensi menjadi inkubator wabah penyakit.

Sekretaris Daerah (Sekda) Banjar, Yudi Andrea, dalam Rapat Koordinasi Siaga Bencana dan Penanganan Bencana di Aula Barakat Lantai 2, Selasa (6/1/2026), memperingatkan dampak kesehatan yang mengintai. Ia menegaskan bahwa kondisi lingkungan yang tidak sehat akibat banjir berkepanjangan sangat rentan memicu berbagai gangguan kesehatan bagi warga terdampak, mulai dari gatal-gatal, penyakit kulit, hingga diare.

Guna memitigasi risiko tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar diinstruksikan untuk meningkatkan intensitas pelayanan. Seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga posko-posko kesehatan darurat, dipastikan harus dalam kondisi aman dan siap siaga memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Menanggapi instruksi tersebut, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, dr. Widya Wiri Utami, menyatakan bahwa pihaknya telah mengintensifkan pemantauan dengan strategi “jemput bola” ke wilayah terdampak. Dalam sehari, tim medis mampu menyisir dua hingga tiga lokasi berbeda dengan bersinergi bersama Puskesmas setempat.

“Tim Dinas Kesehatan turun langsung ke lokasi banjir bersama puskesmas. Selain itu, PSC juga turut mendampingi Bapak Bupati dalam kunjungan ke lokasi-lokasi terdampak,” ujar Widya saat ditemui usai rapat di Aula Barakat, Martapura.

Berdasarkan hasil pemantauan medis di lapangan, Widya membenarkan bahwa penyakit kulit akibat paparan air kotor masih menjadi keluhan paling dominan. Namun, ia memberikan atensi khusus pada adanya tren kenaikan kasus gangguan pencernaan di tengah masyarakat.

“Selain penyakit kulit, tren diare juga mulai meningkat. Saat kami turun ke lapangan, banyak warga yang meminta obat diare, baik untuk anak-anak, bayi hingga orang dewasa,” jelasnya.

Selain kedua jenis penyakit tersebut, kondisi cuaca yang dingin dan lembap di lokasi banjir juga turut memicu peningkatan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), seperti flu dan batuk.

Untuk memastikan penanganan medis berjalan lancar tanpa hambatan logistik, Dinkes Banjar terus memantau ketersediaan farmasi secara ketat. Koordinasi dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi, guna memastikan stok obat-obatan tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.

“Pemenuhan obat-obatan terus kami upayakan. Sumber anggaran berasal dari dana BPBD, BTT serta permohonan tambahan ke provinsi. Stok obat selalu kami perbarui dan pantau agar tetap aman,” tegas Widya menutup keterangannya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka