BerandaHabar BanjarBeban Ganda Perempuan di...

Beban Ganda Perempuan di Pengungsian Sungai Tabuk: Minim Privasi hingga Sulitnya Keperluan Balita

Terbaru

Beban Ganda Perempuan di Pengungsian Sungai Tabuk: Minim Privasi hingga Sulitnya Keperluan Balita

HABARKALIMANTANSUNGAI TABUK – Banjir yang merendam wilayah Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar selama lebih dari dua minggu tidak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi dan menenggelamkan ribuan hunian, namun juga menyisakan cerita perjuangan berat bagi kaum ibu di lokasi pengungsian.

​Di tengah keterbatasan fasilitas Posko Pengungsian Desa Keramat, para perempuan dituntut untuk tetap menjalankan peran domestiknya. Mulai dari mengasuh anak, memastikan asupan makanan keluarga, hingga menjaga kesehatan anggota keluarga, semua dilakukan dalam kondisi serba darurat.

​Hamdanah, warga kawasan Pantai Rumbia, adalah salah satu potret ketangguhan di pengungsian tersebut. Ia terpaksa memboyong suami, dua anak, dan cucunya mengungsi setelah tempat tinggalnya terendam air hingga setinggi paha.

​Meskipun telah meninggalkan rumahnya yang kebanjiran, tugas Hamdanah sebagai seorang ibu dan nenek tidak lantas berkurang, justru tantangan yang dihadapi semakin kompleks, terutama terkait privasi.

​“Kalau mau mandi harus antre, ganti baju juga di dalam WC,” tuturnya menggambarkan kondisi sanitasi di pengungsian.

​Kondisi ini diperparah dengan minimnya ketersediaan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan balita. Barang-barang vital seperti pembalut wanita dan popok bayi menjadi barang langka. Asupan gizi tambahan untuk anak-anak pun sangat terbatas, di mana bantuan susu baru sekali mereka terima selama mengungsi.

​“Harapannya bantuan untuk anak-anak, terutama yang masih kecil, popok, dan keperluan perempuan juga semoga bisa ada,” ungkap Hamdanah penuh harap.

​Masalah lain yang menghantui adalah hilangnya mata pencaharian. Suami Hamdanah yang berprofesi sebagai pencari ikan kini tak bisa berbuat banyak, membuat keluarga ini kehilangan pemasukan dan hanya bisa menanti uluran tangan.

​“Kalau banjir begini, suami tidak bisa kerja. Jadi kami benar-benar bergantung dari bantuan,” tambahnya lirih.

​Merespons kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sungai Tabuk, Ahmad Rabbani memaparkan data terkini di Posko Desa Keramat yang kini menampung 106 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 304 jiwa. Ia juga menjelaskan skala dampak banjir yang meluas di wilayahnya.

​“Secara keseluruhan, banjir berdampak pada 19 desa dan satu kelurahan di Kecamatan Sungai Tabuk, dengan jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 36 ribu jiwa,” jelas Rabbani.

​Terkait logistik permakanan, pihak kecamatan memberlakukan sistem distribusi bergiliran antar desa melalui dapur umum yang menyediakan jatah makan dua kali sehari bagi para pengungsi.

​Di balik data statistik bencana, kisah para perempuan di pengungsian ini menjadi pengingat bahwa dampak banjir tak sekadar kerusakan fisik, melainkan juga beban psikologis dan sosial yang harus ditanggung para korban sembari menanti air surut.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka