Banjir dan Banjir Rob Rendam 17 Desa di Tapin, 3.658 Jiwa Terdampak
HABARKALIMANTAN – RANTAU – Bencana banjir dan genangan air masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tapin. Berdasarkan update Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Tapin per Kamis (08/01/2026), sedikitnya 6 kecamatan dan 17 desa terdampak, dengan total 908 kepala keluarga atau 3.658 jiwa terdampak sementara.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapin, M. Nor, mengatakan bencana yang terjadi terdiri dari banjir rob dan banjir akibat curah hujan, dengan wilayah terparah berada di Kecamatan Candi Laras Selatan.
Banjir rob merendam 12 desa di Kecamatan Candi Laras Selatan, yakni Desa Marampiau Hilir (36 KK/144 jiwa), Baulin (77 KK/310 jiwa), Pabaungan Pantai (15 KK/60 jiwa), Sei Rutas Hulu (10 KK/38 jiwa), Sungai Rutas (50 KK/200 jiwa), Margasari Hulu (27 KK/110 jiwa), Baringin B (21 KK/86 jiwa), Candi Laras (46 KK/186 jiwa), Pabaungan Hilir (62 KK/248 jiwa), Marampiau (52 KK/209 jiwa), Pabaungan Hulu (79 KK/317 jiwa), dan Baringin A (52 KK/205 jiwa).

Selain permukiman warga, 12 fasilitas pendidikan tingkat SD turut terdampak, di antaranya SDN Sungai Rutas 2, SDN Marampiau, SDN Baringin B, SDN Baulin, SDN Baringin 2, SDN Pabaungan Hilir 2, SDN Candi Laras, SDN Marampiau Hilir, SDN Rawana Hilir, SDN Batalas, SDN Keladan 1 dan SDN Keladan 2.
Sementara itu, banjir rob di Kecamatan Candi Laras Utara terjadi di Desa Margasari Hilir, dengan jumlah warga terdampak sekitar 30 KK atau 125 jiwa. Satu fasilitas pendidikan, yakni SMPN 3 Candi Laras Utara, turut tergenang.
“Genangan air di sejumlah rumah warga telah berlangsung lebih dari tiga minggu, bahkan ada yang berbulan-bulan, dengan ketinggian air berkisar 15 hingga 50 sentimeter,” ujar M. Nor.
Ia menjelaskan, tingginya curah hujan menyebabkan volume air sungai meningkat sehingga tidak mampu menampung aliran air. Kondisi tersebut membuat proses surut air berlangsung lebih lama.
Selain banjir rob, banjir juga terjadi di beberapa kecamatan lainnya, yakni Kecamatan Bakarangan di Desa Masta (51 KK/205 jiwa) dan Kecamatan Tapin Selatan di Desa Sawang (15 KK/62 jiwa).
Sementara itu di Kecamatan Tapin Utara di Desa Banua Halat Kanan (60 KK/255 jiwa), serta Kecamatan Binuang di Desa Raya Belanti (Cempaka) dengan jumlah terdampak paling banyak, mencapai 225 KK atau 900 jiwa.
Di Kecamatan Binuang, banjir juga berdampak pada SDN 10 Binuang, sehingga total fasilitas pendidikan terdampak di Kabupaten Tapin mencapai 14 bangunan sekolah.
BPBD Tapin mencatat tidak ada korban jiwa, korban luka, maupun pengungsi dalam peristiwa banjir ini. Namun, genangan air yang bertahan lama menyebabkan lingkungan menjadi lembap dan sebagian warga mengalami gangguan kesehatan seperti infeksi jamur kulit atau penyakit kutu air, serta terganggunya aktivitas sehari-hari.
Dalam penanganan bencana, personel Pusdalops, Satgas, dan TRC BPBD Tapin bersama rombongan Bupati Tapin, TP PKK, serta SKPD terkait telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi terdampak, pendataan warga, serta penyaluran bantuan logistik.
“Untuk wilayah Binuang dan Tapin Selatan, debit air sudah mulai mengalami penurunan. Namun di Bakarangan dan Tapin Utara, air masih menggenangi beberapa rumah warga dengan ketinggian sekitar 20 hingga 50 sentimeter,” pungkas M. Nor.

