FDG Sentra Budi Luhur dan YPR Kobra Perkuat Kolaborasi Rehabilitasi Sosial Kelompok Rentan di Kalsel
Habarkalimantan – Banjarbaru — Upaya rehabilitasi sosial dan pemberdayaan kelompok rentan di Kalimantan Selatan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas pihak. Mulai dari penyandang disabilitas, korban penyalahgunaan napza, hingga orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi kelompok prioritas yang didorong untuk memperoleh akses layanan pemulihan dan peningkatan kemandirian.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Discussion Group (FDG) bertema Kolaborasi Pencegahan dan Penanganan Isu Sosial Strategis yang digelar Rabu (21/01/2026).
Kegiatan ini melibatkan Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, lembaga rehabilitasi, serta unsur masyarakat termasuk IPWL LKS YPR Kobra Kalimantan Selatan.
Kepala Sentra Budi Luhur Kementerian Sosial RI, Ratna Dewi Sartika, menjelaskan layanan asistensi rehabilitasi sosial dapat diakses berbagai kelompok rentan melalui mekanisme asesmen serta rekomendasi dari pemerintah daerah. Khusus bagi penyandang disabilitas, Sentra Budi Luhur menyediakan bantuan atensi berupa pemenuhan alat bantu hingga terapi.
“Untuk penyandang disabilitas, kami memberikan layanan asistensi rehabilitasi sosial berupa pemenuhan alat bantu dan terapi. Alat bantu ini meliputi alat bantu dengar, tangan dan kaki palsu, kursi roda, tongkat penuntun, hingga terapi bagi anak berkebutuhan khusus seperti cerebral palsy,” jelasnya.
Menurut Ratna, dukungan tersebut bertujuan meningkatkan mobilitas, kemandirian, sekaligus kualitas hidup penyandang disabilitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain disabilitas, Sentra Budi Luhur juga menyiapkan bantuan atensi berbasis penguatan fungsi sosial untuk kelompok korban napza dan ODHA. Bantuan mencakup program kewirausahaan, pemenuhan hidup layak, pemberian nutrisi, layanan konseling, serta penguatan mental dan kepercayaan diri.
“Kami menargetkan pemulihan fungsional, agar mereka mampu kembali berdaya, mandiri, dan diterima di masyarakat,” ujarnya.
Ratna menegaskan, penanganan isu sosial strategis tidak bisa berjalan efektif jika hanya mengandalkan pemerintah. Ia menilai sinergi antara pemerintah, masyarakat, organisasi sosial, dan pemerhati sosial perlu diperkuat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi yang berkelanjutan.
“Edukasi berkelanjutan sangat penting agar masyarakat memahami dan bisa mengakses program-program pemerintah, khususnya layanan asistensi rehabilitasi sosial,” katanya.
Ia menambahkan, Sentra Budi Luhur juga memiliki layanan terbuka yang dapat diakses masyarakat untuk memperoleh informasi dan pendampingan terkait program atensi, yang pelaksanaannya dilakukan secara sinergis dengan dinas sosial daerah.
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Selamat Riadi, menegaskan korban penyalahgunaan napza harus dipandang sebagai korban yang wajib mendapat rehabilitasi, bukan hukuman.
“Keterlibatan narkoba saat ini sudah merata, dari usia dewasa hingga anak-anak. Ini sangat mengkhawatirkan karena generasi muda adalah penerus bangsa. Maka rehabilitasi harus dilakukan secepatnya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fase pasca rehabilitasi yang dinilai krusial. Dukungan keluarga dan lingkungan, menurutnya, sangat menentukan keberhasilan pemulihan. Stigma dan pengucilan justru berpotensi meningkatkan risiko kekambuhan.
“Jangan sampai ada pengucilan. Jika mereka sudah pulih lalu dikucilkan atau dicap negatif, maka risiko untuk kembali menggunakan narkoba sangat besar,” ujarnya.
Riadi berharap masyarakat, dunia usaha, dan tokoh setempat dapat memberi kepercayaan, peluang kerja, serta dukungan moral agar mantan korban napza dapat kembali hidup normal dan produktif.
Di sisi lain, Ketua YPR Kobra Kalimantan Selatan, Ardian Noverdi Pratama, menjelaskan lembaganya menjalankan program rehabilitasi dengan pendekatan therapeutic community (TC) yang dipadukan dengan pembinaan mental, fisik, serta kedisiplinan. Selain itu, pihaknya juga membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat proses pemulihan residen.
“Kami juga menjalin jejaring dengan berbagai stakeholder di Kalimantan Selatan untuk mendukung proses pemulihan residen,” ujarnya.
Ardian menambahkan, dukungan pascarehabilitasi, terutama dalam kegiatan vokasional dan pemberdayaan ekonomi, menjadi kebutuhan penting agar residen dapat lebih siap kembali ke masyarakat.
“Harapan kami besar agar mereka difasilitasi kegiatan vokasional dan bisa disalurkan kembali ke masyarakat dengan dukungan bantuan atensi dari Sentra Budi Luhur,” tutupnya.

