DPRD Banjar Soroti Tanggul PT. Palmina Diduga Picu Banjir Cintapuri, Segera Lakukan Sidak dan Kajian Independen
HABARKALIMANTAN – MARTAPURA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjar menggelar Rapat Gabungan Komisi 1, 2, 3, dan 4 bersama Pemerintah Daerah dan manajemen PT. Palmina Utama, Kamis (22/1/2026). Rapat ini digelar sebagai respons atas aduan masyarakat Kecamatan Cintapuri Darussalam yang menduga aktivitas tata kelola air (Water Management System) perusahaan sawit tersebut menjadi biang kerok banjir di wilayah mereka.
Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Banjar, Amiruddin, mengungkapkan bahwa masyarakat merasa keberatan dengan keberadaan tanggul yang dibangun perusahaan. Tanggul tersebut dianggap menghalangi air masuk ke area perkebunan, sementara di sisi lain, perusahaan melakukan pompanisasi untuk membuang air ke Sungai Alalak.
“Masyarakat menduga sistem ini membuat air menumpuk di pemukiman. Meskipun PT. Palmina mengklaim bahwa banjir juga disebabkan curah hujan tinggi, air pasang laut (rob), dan pendangkalan sungai, kami menilai perlu adanya kajian independen. Ini jalan tengah untuk memastikan berapa persen dampak riil dari tanggul tersebut,” tegas Amiruddin usai rapat.
Amiruddin menambahkan, DPRD merekomendasikan pelibatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam penyelesaian masalah ini. Hal ini dikarenakan izin AMDAL perusahaan bersifat lintas kabupaten, meliputi Kabupaten Banjar dan Barito Kuala (Batola).
Sebagai langkah konkret pengawasan, gabungan Komisi DPRD Banjar berencana turun langsung ke lapangan. “Insya Allah kami akan melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) untuk melihat kondisi riil di lapangan, memverifikasi presentasi perusahaan dengan fakta yang dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Operasional PT. Palmina Utama, Leksono Budi Santoso, menyampaikan keprihatinannya atas musibah banjir yang menimpa warga di desa-desa sekitar perusahaan (ring satu).
Sebagai langkah taktis mengurangi debit air, Leksono mengklaim pihaknya telah mengurangi operasional pompa air secara signifikan dalam sepekan terakhir.
“Kami sudah mengurangi operasional pompa hingga 47 persen. Data harian operasional pompa ini juga kami bagikan secara transparan kepada masyarakat Desa Dalam Rabah dan sekitarnya agar bisa diperiksa langsung,” ujar Leksono.
Selain bantuan sembako untuk warga terdampak di ring satu dan ring dua, perusahaan juga menyiapkan rencana jangka menengah yang akan dimulai pada musim kemarau mendatang. Leksono menyebut, pihaknya siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membangun sistem tata kelola air yang tepat guna melalui dana CSR.
“Mulai Mei hingga Oktober 2026 nanti, saat musim kemarau, kami siap membangun proyek Water Management System (WMS) seperti parit atau tanggul yang desainnya disesuaikan dengan hasil survei bersama pemerintah. Jangan sampai bantuan alat atau konstruksi kami justru tidak sesuai kondisi lapangan,” jelasnya.
Terkait solusi jangka panjang seperti normalisasi sungai besar atau Sungai Alalak, manajemen PT. Palmina menyatakan akan mengikuti arahan penuh dari pemerintah, mengingat kompleksitas dan besarnya skala proyek tersebut.

