BerandaUmumTakhta di Atas Darah:...

Takhta di Atas Darah: 33 Tahun Mengenang Runtuhnya Kekaisaran Pablo Escobar

Terbaru

Takhta di Atas Darah: 33 Tahun Mengenang Runtuhnya Kekaisaran Pablo Escobar

HABARKALIMANTAN – Di balik rimbunnya perbukitan Kolombia, tersimpan sebuah narasi yang tak lekang oleh waktu tentang kekuasaan absolut, kekayaan yang mustahil, dan kehancuran yang tragis. Pablo Emilio Escobar Gaviria bukan sekadar nama; ia adalah fenomena yang mengubah peta kriminalitas dunia selamanya.

  1. “The King of Cocaine”: Mengubah Debu Menjadi Emas

Pada awal 1980-an, dunia belum mengenal skala industri narkoba yang masif. Pablo Escobar, melalui Kartel Medellín, mengubah permainan. Ia tidak lagi menyelundupkan kokain dalam koper, ia menggunakan armada pesawat Boeing 727 yang dikosongkan kursinya untuk mengangkut hingga 11 ton kokain per penerbangan menuju Amerika Serikat.

Fakta Eksklusif: Pada puncak kejayaannya, Escobar bertanggung jawab atas 80% pasokan kokain dunia. Pendapatannya mencapai US420 juta perminggu. Begitu banyaknya uang tunai yang dimiliki, ia kehilangan sekitar US2,1 miliar setiap tahun hanya karena dimakan tikus atau rusak karena kelembapan di dalam gudang penyimpanan bawah tanah.

  1. “Plata o Plomo”: Diplomasi Peluru dan Perak

Kekuasaan Pablo berdiri di atas fondasi yang ia sebut Plata o Plomo (Perak atau Timbal). Siapa pun yang menolak suap (perak), akan menerima peluru (timbal).

Daftar korbannya tidak main-main:

3 Calon Presiden Kolombia.

Keadilan yang Lumpuh: Penyerbuan Istana Keadilan tahun 1985 yang menewaskan 11 hakim agung.

Tragedi Avianca 203: Peledakan pesawat komersial yang menewaskan 107 orang hanya untuk membunuh seorang politikus (yang ternyata tidak ada di pesawat tersebut).

  1. La Catedral: Penjara yang Menjadi Istana

Salah satu babak paling ganjil dalam sejarah hukum adalah ketika Pablo “menyerah” pada tahun 1991. Namun, ia tidak dipenjara di sel sempit. Ia membangun La Catedral, sebuah hunian mewah yang ia rancang sendiri sebagai penjara.

Fasilitas di dalamnya mencakup:

Lapangan sepak bola standar internasional.

Bar pribadi, jacuzzi, dan air terjun buatan.

Kebebasan penuh bagi para pemimpin kartel untuk berpesta sementara tentara pemerintah hanya boleh berjaga di luar gerbang.

  1. Akhir Sang Patrón: Atap yang Berdarah

Keangkuhan Pablo di La Catedral menjadi awal kehancurannya. Setelah melarikan diri dari penjara mewahnya sendiri, ia menjadi orang paling dicari oleh gabungan pasukan khusus Amerika Serikat (Delta Force dan SEAL Team 6) serta unit Search Bloc Kolombia.

Pada 2 Desember 1993, sehari setelah ulang tahunnya yang ke-44, teknologi pelacakan radio berhasil mengunci lokasinya di sebuah rumah kelas menengah di Medellín. Dalam baku tembak sengit di atas atap, sang Raja Kokain tewas dengan peluru yang menembus telinganya.

  1. Warisan yang Menghantui

Meski Pablo telah tiada, jejaknya belum terhapus. Selain trauma nasional, ia meninggalkan masalah ekologis unik: Kuda Nil Kokain. Kuda nil yang dulu diimpornya untuk kebun binatang pribadi kini berkembang biak secara liar di sungai-sungai Kolombia, menjadi spesies invasif terbesar di dunia.

Kisah Escobar tetap menjadi pengingat gelap bagi dunia internasional tentang bagaimana sebuah organisasi kriminal bisa menjadi lebih kuat daripada sebuah negara jika dibiarkan tumbuh dengan uang dan ketakutan.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka