BANJARMASIN — Tantangan tata kelola sektor pertambangan Indonesia ke depan dinilai membutuhkan penguasaan teknologi mutakhir sekaligus komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Hal tersebut mengemuka dalam forum dialog yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan dunia industri di Lecture Theater Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Senin (31/8/2026).
Forum tersebut mendorong penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan industri untuk menyiapkan generasi ahli pertambangan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memahami penerapan good mining practice.
Penguatan sumber daya manusia di sektor pertambangan dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan penguasaan teori dasar. Mahasiswa juga dituntut memiliki kemampuan mengikuti perkembangan digitalisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta memahami aspek lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi ULM, Dr. Ir. Yusuf Azis, yang menjadi keynote speaker dalam forum tersebut, menekankan pentingnya penguatan kompetensi digital dan AI, kepedulian terhadap lingkungan, serta kolaborasi dengan industri.
Menurutnya, kesiapan menghadapi era digitalisasi menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi perubahan sektor pertambangan.
“Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga bertindak sebagai agen transformasi yang membawa inovasi teknis maupun manajerial di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Ahmad Syauqi, menilai komunikasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri perlu terus diperkuat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan dan kebutuhan industri pertambangan.
Ia pun mengajak mahasiswa dan akademisi muda untuk tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi ikut mengambil bagian dalam proses transformasi sektor tersebut.
“Jangan hanya menjadi penonton perubahan, jadilah bagian dari perubahan,” pesan Ahmad Syauqi kepada mahasiswa.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah perspektif dari praktisi dan pemangku kepentingan sektor pertambangan.
Di antaranya Koordinator Hubungan Komersial Mineral Ditjen Minerba Muhammad Irwan, General Manager HSE PT Adaro Energy Indonesia Tbk Rusdi Husin, Kepala Cabang PT Sucofindo Banjarmasin Roni Guruhwira, serta Duta Minerba Goes to Site 2025 Hikmah.
Diskusi dimoderatori Dosen Teknik Pertambangan ULM, Karina Shella Putri.
Melalui forum lintas sektor tersebut, ULM terus memperkuat ruang dialog antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri.
Kolaborasi itu diarahkan untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga memahami tanggung jawab sosial serta lingkungan dalam pengelolaan sektor pertambangan.
Dengan demikian, penguatan kapasitas sumber daya manusia diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendukung praktik pertambangan yang lebih adaptif terhadap teknologi dan memperhatikan prinsip keberlanjutan.


