BerandaHabar BanjarAncaman Ganda di Kabupaten...

Ancaman Ganda di Kabupaten Banjar: Karhutla Mendekati 6.200 Hektare dan 74 Desa Alami Krisis Air

Terbaru

Ancaman Ganda di Kabupaten Banjar: Karhutla Mendekati 6.200 Hektare dan 74 Desa Alami Krisis Air

MARTAPURA – ​Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terus memburuk. Sejak pertengahan Juli hingga Senin (5/10/2026), akumulasi luas area yang hangus terbakar telah menembus hampir 6.200 hektare dari total 937 peristiwa kebakaran.

​Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan rekapan kasus Karhutla yang meluas sejak 15 Juli 2026.

​“Hingga saat ini sudah mendekati 6.200 hektare lahan yang terbakar dengan total kejadian mencapai 937 titik kejadian kebakaran hutan dan lahan,” ujar Wasis saat ditemui, Senin (5/10/2026).

​Aktivitas si jago merah justru memperlihatkan tren peningkatan dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. Area yang kini menjadi fokus utama pemadaman meliputi Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, dan Martapura Barat.

​Insiden cukup besar melanda kawasan Tembikar Kanan (Belayung), batas wilayah Desa Simpang Empat, Kecamatan Kertak Hanyar, yang menghanguskan sekitar 42 hektare lahan. Karena kobaran api sangat masif, pemadaman jalur darat harus ditopang oleh operasi water bombing dari udara.

​“Kebakaran kemarin cukup besar sehingga memerlukan bantuan penanganan water bombing udara yang dikolaborasikan dengan satgas darat,” jelas Wasis.

​Proses pemadaman berat juga dialami tim satgas di Pematang KM 5, Kecamatan Gambut. Kebakaran di titik ini berkobar sejak sore hari dan baru berhasil dijinakkan sekitar pukul 01.00 dini hari akibat terpaan angin kencang serta luasnya medan lahan yang terbakar.

​“Di Pematang KM 5 Gambut juga berlangsung cukup lama dari sore hingga pukul 01.00 malam baru bisa dipadamkan karena angin kencang dan medan yang luas,” ungkapnya.

​Selain amukan api, Kabupaten Banjar turut dilanda krisis air bersih akibat musim kemarau. BPBD mencatat setidaknya 74 desa memerlukan pasokan air bersih secara berkala.

​Melonjaknya permintaan dari warga membuat siklus distribusi bantuan air bergeser. Semula pengiriman bisa berlangsung dua kali dalam seminggu, namun kini harus disesuaikan menjadi 10 hari sekali agar seluruh wilayah terdampak bisa terlayani.

​“Permintaan air bersih terus meningkat. Jika bulan lalu jadwal distribusi bisa dilakukan sepekan dua kali, kini menjadi 10 hari sekali karena banyaknya permintaan desa yang terdampak,” kata Wasis.

​Dampak kekeringan paling parah dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Aluh-Aluh, Beruntung Baru, serta pemukiman pesisir lainnya. Sejauh ini, BPBD telah menyalurkan kurang lebih 3 juta liter air bersih menggunakan tiga unit armada truk tangki yang beroperasi penuh dari pagi hingga sore. Selain itu, sebanyak 130 tandon air dipinjamkan ke desa-desa yang terimbas, dan penambahan armada tangki sedang direncanakan.

​Merujuk data BMKG yang dihimpun BPBD, curah hujan diperkirakan mulai turun secara bertahap pada November mendatang. Selama menunggu musim hujan tiba secara merata, petugas di lapangan harus terus berjibaku menghadapi ancaman Karhutla sekaligus mendistribusikan air bersih bagi warga.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka