BerandaHabar BanjarbaruBanjarbaru Masih Rawan Rabies,...

Banjarbaru Masih Rawan Rabies, Balai Veteriner Perkuat Surveilans dan Vaksinasi Gratis

Terbaru

Banjarbaru Masih Rawan Rabies, Balai Veteriner Perkuat Surveilans dan Vaksinasi Gratis

HabarkalimantanBanjarbaru — Kota Banjarbaru dinilai masih masuk kategori wilayah rawan rabies setelah tingginya proporsi kasus positif pada 2025. Dari 18 kasus rabies positif yang terkonfirmasi di Kalimantan Selatan tahun lalu, sembilan kasus berasal dari Banjarbaru.

Ketua Tim Kerja Informasi Veteriner Balai Veteriner Banjarbaru, drh. Wijanarko, mengatakan hingga awal 2026 belum ada data surveilans terbaru yang mengonfirmasi kasus positif. Namun, tren lima tahun terakhir menunjukkan puncak kasus terjadi pada 2025 sehingga Banjarbaru tetap dikategorikan berisiko tinggi.

“Proporsi kasus positif di Banjarbaru cukup signifikan dibanding daerah lain. Ini indikator kuat bahwa wilayah ini masih rawan rabies,” ujarnya, Senin (02/02/2026).

Terkait laporan belasan kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) pada Januari 2026, ia menegaskan belum ada pengujian laboratorium terhadap hewan yang terlibat. Dengan demikian, belum terdapat konfirmasi kasus rabies positif di awal tahun ini.

Berdasarkan data 2020 hingga 2025, hewan yang paling dominan menyebabkan gigitan di Banjarbaru adalah anjing. Sebagian besar hewan penular yang terlibat kasus gigitan juga belum mendapatkan vaksin rabies, sehingga meningkatkan potensi risiko penularan.

Sebagai langkah pengendalian, Balai Veteriner rutin melakukan surveilans rabies aktif dan pasif untuk deteksi dini serta pemetaan risiko, khususnya di kawasan permukiman. Vaksinasi rabies gratis juga konsisten digelar setiap tahun bertepatan dengan Hari Rabies Sedunia pada 28 September.

Dalam penanganan di lapangan, Balai Veteriner berkoordinasi lintas sektor bersama Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, puskesmas, dan pemerintah daerah, mulai dari pelaporan gigitan, pengambilan sampel, hingga dukungan kegiatan pengendalian.

“Kami memastikan ketersediaan vaksin rabies hewan tetap memadai melalui pengadaan rutin dari Kementerian Pertanian dan distribusi ke unit pelaksana teknis,” jelasnya.

Meski demikian, tantangan di lapangan masih ditemukan, terutama keterlambatan pelaporan dan rendahnya pemahaman masyarakat terkait penanganan awal gigitan HPR.

Wijanarko mengimbau pemilik hewan peliharaan untuk rutin memvaksinasi hewannya serta tidak membiarkan berkeliaran bebas. Orang tua juga diminta meningkatkan pengawasan anak agar tidak berinteraksi dengan hewan yang tidak dikenal.

Sementara itu, Rina, seorang warga Banjarbaru, mengaku kini lebih memperhatikan jadwal vaksin hewan peliharaannya.

“Setelah sering lihat sosialisasi rabies, saya jadi rutin bawa peliharaan saya vaksin. Anak-anak juga saya ingatkan jangan sembarang pegang hewan di luar,” ujarnya.

Balai Veteriner berharap keterlibatan aktif masyarakat dapat menekan risiko penularan rabies di Banjarbaru melalui pelaporan cepat dan kepatuhan vaksinasi hewan peliharaan.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka