Banjir Hantam Sektor Perikanan Kabupaten Banjar: Kerugian Tembus Rp4,4 Miliar, Ratusan Pembudidaya Terdampak
HABARKALIMANTAN – Martapura – Sektor perikanan di Kabupaten Banjar mengalami pukulan berat pasca-banjir yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar mencatat total kerugian materiil mencapai Rp4,4 miliar.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Jumat (23/1/2026), banjir mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur budidaya dan hilangnya aset produksi milik warga.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah, mengungkapkan bahwa terdapat 202 pembudidaya yang terdampak bencana ini. Kerugian fisik meliputi hanyutnya benih ikan dan lepasnya ikan siap panen dari keramba akibat derasnya arus sungai.
”Total kerugian fisik yang terdata meliputi benih yang hilang sekitar lebih dari 5 juta ekor, serta ikan besar siap panen yang hilang sekitar 1.700 ton,” jelas Bandi.
Penyebab utama kerugian ini adalah tingginya debit air yang membuat tali tambat atau jangkar Keramba Jala Apung (KJA) di bantaran sungai tidak kuat menahan arus, sehingga banyak keramba yang hanyut atau jebol.
Lokasi terdampak tersebar di empat kecamatan, mulai dari wilayah hulu hingga hilir, di Karang Intan hingga ke Martapura Barat.
Tingginya angka kerugian ini menyoroti fenomena dilematis di kalangan pembudidaya. Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan DKPP Banjar, Apriyani Mindra Waspodo, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini (early warning) sebelum air bah datang.
Namun, faktor ekonomi memaksa para pembudidaya untuk tetap beroperasi di tengah risiko cuaca ekstrem.
”Para pembudi daya harus mengejar target penjualan sesuai kerja sama dengan penyedia pakan, sehingga proses pembudidayaan tetap berjalan meski ada risiko banjir,” ungkap Apriyani.
Akibatnya, ketika debit air meluap drastis, KJA milik warga tak mampu menahan beban dan arus, menyebabkan ikan-ikan peliharaan lepas ke sungai.
Menanggapi situasi ini, DKPP Banjar terus berupaya melakukan pendampingan kolaboratif bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Bandi Chairullah menekankan pentingnya edukasi agar pembudidaya mampu “membaca iklim”.
”Pada bulan-bulan tertentu saat cuaca ekstrem tinggi, pembudidaya harus waspada. Langkah teknis yang kami sarankan meliputi pengaturan padat tebar benih, penguatan tali jangkar keramba, serta memperkuat pematang kolam atau memasang waring (jaring pengaman),” tambah Bandi.
Saat ini, kondisi banjir di lokasi-lokasi tersebut dilaporkan sudah surut dan stabil. Pihak dinas berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi mitigasi bencana di sektor perikanan pada masa mendatang.

