BerandaHabar BanjarDinkes Banjar Siaga "Super...

Dinkes Banjar Siaga “Super Flu”: Pemantauan Puskesmas Diperketat, Warga Diminta Kenali Gejala

Terbaru

Dinkes Banjar Siaga “Super Flu”: Pemantauan Puskesmas Diperketat, Warga Diminta Kenali Gejala

HABARKALIMANTANMARTAPURA – Ancaman virus “super flu” yang membawa gejala lebih berat mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten Banjar. Meski secara administratif belum ditemukan laporan kasus positif, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah menginstruksikan jajaran Puskesmas untuk meningkatkan intensitas pengawasan terhadap tren penyakit saluran pernapasan di masyarakat, Senin (26/1/2026).

​Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, dr. H. Noripansyah, mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini adalah deteksi dini, mengingat banyak warga yang masih menganggap remeh gejala awal.

​”Banyak warga yang tidak melaporkan karena mengira hanya batuk pilek biasa, sehingga kasus ini belum terlihat secara spesifik,” ujar dr. Noripansyah saat ditemui di Kantor Dinkes Banjar.

​Langkah preventif ini diambil sebagai respons cepat terhadap surat edaran dari Kementerian Kesehatan dan Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan per Januari 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Marzuki, menjelaskan bahwa lonjakan angka kunjungan pasien flu di Puskesmas kini menjadi indikator krusial.

​”Jika biasanya Puskesmas menangani 10 kasus flu per minggu lalu tiba-tiba melonjak menjadi 20, itu menjadi sinyal bagi kami untuk melakukan pemeriksaan medis lebih intensif ke wilayah puskesmas tersebut berada untuk pencegahan resiko wabah,” tambah Marzuki.

​Berbeda dengan influenza musiman, super flu memiliki tiga ciri utama yang harus diwaspadai:
​Serangan Mendadak: Gejala muncul jauh lebih cepat secara tiba-tiba.
​Durasi Panjang: Masa pemulihan memakan waktu lebih lama.
​Demam Tinggi: Intensitas suhu tubuh yang lebih ekstrem dengan masa inkubasi virus yang panjang.

​Kelompok rentan seperti bayi dan lansia menjadi fokus perhatian utama karena risiko komplikasi medis yang lebih berat, mulai dari ancaman kejang pada anak akibat demam tinggi hingga sesak napas akut pada orang dewasa.

​Hingga saat ini, protokol medis masih bergantung pada pengobatan bersifat simptomatik (meredakan gejala), seperti pemberian Paracetamol. Belum tersedia obat khusus yang secara spesifik menargetkan virus ini.

​Sebagai langkah perlindungan mandiri, dr. Noripansyah menekankan pentingnya disiplin protokol kesehatan dan penguatan imun.

​“Penggunaan masker saat berada di kerumunan, menjaga kebugaran tubuh, dan mengonsumsi multivitamin sangat dianjurkan,” katanya.

​Meskipun intensitasnya lebih berat, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang namun waspada. Selama ditangani dengan prosedur medis yang tepat, penyakit ini dapat disembuhkan, terbukti dengan belum adanya laporan kasus kematian hingga saat ini.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka