BerandaHabar BanjarDinkes Kabupaten Banjar Catat...

Dinkes Kabupaten Banjar Catat Kasus TBC Masih Tinggi di Kabupaten Banjar, Rendahnya Kesadaran Berobat Jadi Kendala

Terbaru

Martapura — Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Banjar. Meski angka estimasi kasus mengalami penurunan secara nasional, temuan kasus baru dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk berobat secara tuntas membuat penyakit ini tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Mariana, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak memahami pentingnya pemeriksaan dan pengobatan TBC secara menyeluruh.

“Banyak yang merasa sudah sembuh setelah beberapa minggu, lalu menghentikan pengobatan. Padahal pengobatan TBC harus dijalani hingga tuntas untuk memutus rantai penularan,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (8/8/2025).

Angka Kasus TBC Masih Fluktuatif, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar:

Tahun 2023 estimasi 2.282 kasus, ditemukan 1.136 kasus. Tahun 2024 estimasi 2.058 kasus, ditemukan 1.297 kasus. Januari–Juni 2025 estimasi 1.772 kasus, ditemukan 557 kasus.

Mariana menekankan bahwa tingginya angka temuan bukanlah hal buruk.

“Penemuan yang tinggi justru baik, artinya lebih banyak pasien yang dapat diobati sejak dini,” jelasnya.

Namun, TBC tetap menjadi penyakit mematikan. Pada tahun 2024 tercatat 39 kematian, sementara pada semester pertama 2025 sudah ada 11 kasus meninggal dunia akibat TBC.

Berbagai upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar untuk menekan angka penyebaran TBC, antara lain:

Skrining aktif bagi warga yang menunjukkan gejala TBC.

Pengobatan pencegahan bagi kontak serumah pasien.

Sosialisasi rutin di sekolah dan lingkungan masyarakat.

Penerbitan Perbup TBC dan pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan TBC.

Kerja sama dengan Baznas, menyediakan sembako untuk kontak pasien sebagai insentif pemeriksaan.

Pemberian makanan tambahan, seperti susu, bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan.

Pengadaan tambahan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk percepatan deteksi.

Dengan kombinasi pendekatan medis, edukasi, dan insentif sosial, pemerintah berharap angka TBC bisa ditekan secara bertahap.

“Kami terus bekerja keras agar masyarakat yang berisiko bisa segera terdeteksi dan diobati. Harapannya, TBC bisa segera kita tekan, bahkan hilangkan dari Banjar,” tutupnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka