Kalsel Dikepung Tambang Ilegal: Lingkungan Rusak, Keselamatan Warga Terancam
HABARKALIMANTAN – Kalsel – Praktik penambangan tanpa izin (peti) atau tambang ilegal di Kalimantan Selatan kian mengkhawatirkan. Alih-alih mendatangkan kesejahteraan, aktivitas ilegal ini justru menjadi “bom waktu” yang merugikan masyarakat luas, mulai dari kerusakan lingkungan permanen hingga hilangnya nyawa warga sekitar.
Berdasarkan pantauan di lapangan dan laporan berbagai aktivis lingkungan, aktivitas tambang ilegal ini tersebar di beberapa kabupaten penghasil batu bara dan bijih besi. Minimnya pengawasan dan masifnya alat berat yang beroperasi di lahan terlarang memicu dampak berantai yang mengerikan.
Dampak paling nyata dirasakan warga adalah hilangnya daerah resapan air. Lubang-lubang raksasa (void) bekas galian ilegal dibiarkan menganga tanpa reklamasi. Hal ini mengakibatkan siklus hidrologi terganggu; saat hujan deras, air tidak lagi meresap ke tanah melainkan langsung menerjang pemukiman warga.
“Dulu desa kami jarang banjir. Sekarang, hujan sebentar saja air sudah masuk rumah karena perbukitan di atas sudah habis dikupas tambang,” keluh salah satu warga di daerah terdampak yang enggan disebutkan namanya.
Selain faktor alam, masyarakat juga dirugikan secara ekonomi akibat hancurnya infrastruktur publik. Truk-truk pengangkut hasil tambang ilegal seringkali melintasi jalan desa dan jalan provinsi dengan muatan berlebih (overload).
Akibatnya, akses transportasi warga terhambat karena jalan rusak parah dan berdebu saat kemarau, namun berubah menjadi kubangan lumpur saat musim penghujan. Selain itu, risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan armada tambang terus meningkat, mengancam keselamatan pengguna jalan.
Dampak tambang ilegal juga masuk ke ranah kesehatan. Limbah pencucian tambang yang langsung dialirkan ke sungai mencemari sumber air bersih warga. Tingginya kadar asam dan logam berat di air sungai memicu penyakit kulit dan gangguan pencernaan bagi warga yang masih bergantung pada air sungai.
Lebih tragis, lubang-lubang bekas tambang yang tidak dipagari telah memakan korban jiwa. Anak-anak di sekitar lokasi seringkali menjadi korban tenggelam di lubang tambang yang nampak seperti danau tenang namun sangat dalam dan berbahaya.
Aktivis lingkungan dari berbagai organisasi mendesak agar aparat penegak hukum tidak “tutup mata” terhadap praktik ini. Mereka menilai, tambang ilegal bukan sekadar masalah izin, melainkan kejahatan lingkungan luar biasa.
“Negara tidak boleh kalah dengan para pemain tambang ilegal. Dampaknya permanen, masyarakat yang menanggung deritanya, sementara keuntungan hanya dinikmati segelintir oknum,” tegas salah satu aktivis lingkungan Kalsel.
Masyarakat berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan penertiban secara sistemik, mulai dari menutup akses jalan hingga menindak tegas pemodal di balik aktivitas ilegal tersebut.

