KOTABARU – Balogo adalah salah satu permainan khas Kalimantan atau permainan tradisional di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang dilakukan oleh anak-anak, remaja dan orang dewasa pada umumnya, baik kaum pria maupun perempuan.
Seiring berkembangnya zaman, Balogo juga berfungsi sebagai olahraga yang juga mulai diperlombakan di beberapa turnamen dan kejuaraan antar daerah.
Hal tersebut, sebagai upaya untuk tetap melestarikan permainan tradisional Balogo yang mulai pudar di zaman moderen sekarang ini.
Seperti dilakukan warga Kabupaten Kotabaru, yang hampir tiap malam melakukan latihan permainan tradisional Belogo sambil menjalin silaturahmi antar sesama pecinta olahraga Balogo. Di lapangan arena Balogo Saijaan di jalan H. Hasan Basri desa Semayap kecamatan Pulau laut Utara Kabupaten Kotabaru.
Alpiani ketua Gabungan Olahraga Balogo Indonesia (GOBI) Kabupaten Kotabaru mengatakan GOBI adalah organisasi olahraga yang menaungi olahraga tradisional Balogo. Balogo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak benda (WBtb) oleh Kemendikbud ristek RI dan terdaftar di Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi), Jumat (3/1/2025).
“Untuk Logonya, terbuat dari bahan tempurung kelapa dengan ukuran garis tengah sekitar 5 sampai 7 centimeter dan ketebalan antara 1 sampai 2 centimeter dan kebanyakan dibuat berlapis dua yang direkatkan dengan bahan aspal atau dempul agar menjadi berat dan kuat,” Ucapnya.
Ia juga menjelaskan, untuk bentuk Logo sendiri bermacam-macam.
“Bentuk logo bermacam-macam, ada yang berbentuk segitiga, bentuk layang-layang, daun, bundar dan hati atau amor, fungsi panapak atau campa ini adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan merobohkan target yang dipasang saat bermain,” terangnya.
Permainan Balogo ini bisa dilakukan satu lawan satu atau secara berkelompok 3 orang, dengan demikian jumlah logo yang dimainkan sebanyak jumlah pemain yang disepakati dalam permainan Balogo.
“Permainan Balogo ini adalah keterampilan memainkan logo agar bisa merobohkan target dan yang paling banyak dapat merobohkan target akan menjadi pemenangnya tanpa keluar dari lintasan Belogo,” papar Alpiani.
Alpiani juga menceritakan perjalan Balogo di Kabupaten Kotabaru yang pernah mendapat predikat posisi ke 2 dari 13 Kabupaten seKalimantan Selatan, dan yang terakhir di Kabupaten Banjar tahun 2024 Kabupaten Kotabaru mendapatkan urutan ke 5.
Di tahun 2023 yang di laksanakan Kabupaten Balangan dan Tanah Bumbu mendapat predikat juara 1 dan di Kabupaten Marabahan tahun 2021 juara 1. Kabupaten Kotabaru sudah bisa bersaing dengan Kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan, Kabupaten Kotabaru selalu jadi perhatian oleh Kabupaten lain pada saat event-event di gelar pada saat pertandingan Balogo.
“Saya berharap kepada dinas terkait seperti Disporpora dan Dinas Pendidikan dan kebudayaan dan dinas lainnya ikut serta dalam melestarikan permainan olahraga tradisional Balogo ini dengan menggelar event-event kejuaraan Balogo dari tingkat pelajar agar generasi milenial bangsa ini mengenal dan ikut serta dalam melestarikan olahraga tradisional Balogo di Kabupaten Kotabaru.Balogo adalah salah satu warisan budaya Kalimantan Selatan yang harus kita pertahankan agar tidak hilang di makan jaman yang serba moderen sekarang ini,” pungkas Alpiani.
Penulis M.Nasaruddin


