MARTAPURA – Eskalasi bencana banjir yang melanda Kabupaten Banjar belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi yang kian memprihatinkan di lapangan memaksa pemerintah daerah mengambil langkah cepat dengan resmi memperpanjang status Masa Tanggap Darurat Bencana Banjir.
Kebijakan perpanjangan ini akan berlaku selama sepekan ke depan. Masa tanggap darurat yang sedianya berakhir pada 4 Januari 2026, kini ditetapkan berlanjut hingga 11 Januari 2026. Keputusan strategis ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Banjar, Yudi Andrea, pada Sabtu (3/1/2026) sore.
Yudi menegaskan bahwa langkah ini diambil merujuk pada data lapangan yang menunjukkan tren kenaikan jumlah warga yang terpapar bencana.
“Melihat kondisi terakhir, di mana jumlah korban justru bertambah berdasarkan laporan terbaru, maka status tanggap darurat akan kita perpanjang selama tujuh hari ke depan,” jelas Yudi Andrea kepada awak media.
Berdasarkan pemutakhiran data Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar per 3 Januari 2026, cakupan bencana kini telah berkurang menjadi 7 kecamatan dari yang awalnya 10 kecamatan per 2 Januari 2026. Meskipun jumlah kecamatan yang terdampak menurun, dampak yang ditimbulkan masih masif, di mana tercatat sebanyak 114.727 jiwa dari 40.532 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung oleh banjir.
Kerusakan infrastruktur hunian juga mencolok. Sebanyak 22.803 unit rumah terdampak, dengan 11.611 unit di antaranya dalam kondisi terendam. Situasi ini memicu gelombang pengungsian yang signifikan, memaksa 4.734 jiwa meninggalkan rumah mereka dan menyebar di 17 titik pengungsian, baik yang dikelola resmi maupun posko mandiri.
Salah satu potret pilu dialami oleh Fitri. Ia harus berjuang di lokasi pengungsian selama tiga hari terakhir sembari merawat bayinya yang masih berusia tiga bulan. Rumah sewaan yang dihuni keluarganya di kawasan Bincau kini tak lagi bisa ditempati akibat genangan air yang tinggi.
“Kami mengontrak rumah di Bincau. Karena kondisi banjir belum memungkinkan, akhirnya harus mengungsi,” tutur Fitri.
Trauma akibat kejadian ini membuat Fitri bertekad untuk mencari hunian baru setelah air surut nanti, demi keselamatan keluarganya di masa depan.
“Setelah keluar dari pengungsian, kami berencana pindah rumah ke tempat yang lebih aman dari banjir,” pungkasnya.

