BerandaHabar BanjarKualitas Udara Kabupaten Banjar...

Kualitas Udara Kabupaten Banjar Memburuk Akibat Karhutla, Warga Diimbau Pakai Masker

Terbaru

Kualitas Udara Kabupaten Banjar Memburuk Akibat Karhutla, Warga Diimbau Pakai Masker

​MARTAPURA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini mulai mengancam kondisi udara di wilayah Kabupaten Banjar. Walau pengukuran menyeluruh di setiap titik belum berjalan, kasat mata terlihat bahwa penurunan kualitas udara sudah memasuki level yang mengkhawatirkan.

​DPRKPLH Kabupaten Banjar melalui Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Muhammad Saupi, memaparkan situasi terkini di lapangan.

​“Memang saat ini kita belum melakukan pengukuran yang sifatnya spot atau titik-titik. Tetapi kalau secara kasat mata, kualitas udara itu mungkin sudah dengan kategori tidak sehat,” ujarnya.

​Ancaman terbesar dari paparan asap ini berasal dari partikel halus PM2,5 yang berisiko tinggi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

​“PM2,5 itu partikel udara yang ukurannya sangat kecil, sehingga bisa masuk sampai ke paru-paru. Itu yang paling berbahaya dan akhirnya bisa memicu ISPA maupun gangguan kesehatan lainnya,” jelasnya.

​Saupi juga menekankan bahwa pergerakan asap sulit dibendung hanya di satu wilayah karena faktor cuaca dan angin.

​“Bisa jadi sumber titik pencemarannya bukan di wilayah Kabupaten Banjar. Karena udara ini lintas wilayah dan kita tidak bisa membatasi arah angin bertiup,” katanya.

​Beberapa area seperti Gambut, Kertak Hanyar, Martapura Barat, dan Sungai Tabuk menjadi fokus pemantauan akibat tingginya aktivitas kebakaran lahan. Meski alat ukur di kantor DPRKPLH secara umum masih mencatat status sedang, fluktuasi penurunan kualitas tetap terjadi di jam-jam rawan.

​“Kalau di titik kita, hari ini kondisinya sedang. Tetapi memang ada waktu-waktu tertentu yang kualitasnya tidak bagus, terutama pagi dan sore sampai malam,” ungkapnya.

​Masyarakat kini disarankan membatasi kegiatan di luar ruangan serta wajib menggunakan masker standar bila harus beraktivitas di area terbuka. Penanganan terbaik tetap berada pada upaya pencegahan sejak awal.

​“Pencegahannya sebenarnya jangan ada pembakaran. Kalau sudah terjadi, otomatis tindak lanjutnya adalah menanggulangi kebakaran tersebut,” pungkasnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka