Langkah Sunyi Politikus Senior: Rian Jaya Resmi Tinggalkan PDIP Setelah 27 Tahun Mengabdi
HABARKALIMANTAN – RANTAU – Tidak semua keputusan politik lahir dari konflik atau perbedaan pandangan. Sebagian justru tumbuh dari perenungan panjang dan kesadaran akan waktu.
Itulah yang mendasari langkah H. M. Rian Jaya, SE, kader senior PDI Perjuangan Kabupaten Tapin, ketika secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari partai yang telah ia besarkan selama hampir tiga dekade.
Di depan kantor DPC PDI Perjuangan Tapin, Rian Jaya menyerahkan surat pengunduran diri dengan ekspresi tenang. Tidak ada nada emosional, tidak pula isyarat kekecewaan. Yang ada justru sikap legawa seorang politisi senior yang merasa telah menunaikan tugasnya.

“Ini murni keputusan pribadi. Saya sudah hampir 27 tahun mengabdi di partai. Regenerasi sudah berjalan, dan menurut saya sudah saatnya memberi ruang,” ucap Rian Jaya.
Keputusan itu bukan hasil reaksi sesaat. Ia mengaku telah memikirkannya hampir satu tahun penuh, menimbang berbagai aspek, baik secara pribadi maupun organisasi.
“Saya merenungkannya cukup lama. Bukan keputusan yang mudah, karena PDI Perjuangan adalah bagian besar dari perjalanan hidup saya,” katanya.
Selama puluhan tahun, nama Rian Jaya tak bisa dipisahkan dari dinamika politik Tapin dan Kalimantan Selatan.
Ia pernah memimpin DPC PDI Perjuangan Tapin selama dua periode (2000–2005 dan 2005–2010), lalu mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan selama dua periode berturut-turut (2010-2015 dan 2015-2019).
Di parlemen, jejak pengabdiannya juga panjang. Dua periode sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tapin, satu periode sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, hingga kembali ke daerah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Tapin periode 2019–2024.
Meski mundur, Rian Jaya menegaskan bahwa langkahnya tidak dilatarbelakangi konflik internal maupun perbedaan pandangan politik dengan partai.
“Tidak ada perbedaan pandangan. Hubungan saya dengan partai tetap baik,” tegasnya.
Tentang masa depan, ia memilih bersikap terbuka. Ia tidak menutup diri dari dunia politik, namun juga tidak ingin terburu-buru menentukan arah.
“Dalam kehidupan ini, politik pasti selalu ada. Tapi untuk langkah selanjutnya, saya belum tahu. Saya ingin melihat dan menjalani dulu,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Rian Jaya menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna kepada kader dan pendukung yang selama ini membersamainya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader dan pendukung. Perjuangan kita selama ini adalah bagian dari sejarah yang tidak akan saya lupakan,” katanya.
Kepergian H. M. Rian Jaya dari PDI Perjuangan menandai berakhirnya satu bab penting dalam perjalanan politik Tapin. Namun, seperti yang ia sampaikan sendiri, ini bukan tentang meninggalkan perjuangan, melainkan tentang memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan.

