BerandaHabar BanjarMenakar Harapan Pertanian Kabupaten...

Menakar Harapan Pertanian Kabupaten Banjar 2026: Lonjakan Panen di Tengah Pusaran Tantangan

Terbaru

Menakar Harapan Pertanian Kabupaten Banjar 2026: Lonjakan Panen di Tengah Pusaran Tantangan

MARTAPURA — Tahun 2026 membawa dua wajah yang bertolak belakang bagi sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Di satu sisi, daerah ini patut berbangga dengan tren kenaikan panen padi yang memuaskan. Namun di seberang sana, bayang-bayang masalah struktural, mulai dari krisis iklim, menyusutnya lahan, hingga minimnya regenerasi petani menanti untuk diurai.

​Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, membenarkan bahwa beban yang dipikul sektor krusial ini makin berat.

​“Perubahan iklim, regenerasi petani yang lambat, keterbatasan SDM, infrastruktur, dan kebutuhan modernisasi masih menjadi tantangan utama. Ditambah lagi penyuluh pertanian yang kini ditarik menjadi pegawai pusat, tentu ini berdampak pada pelayanan di tingkat petani,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

​Beralihnya status penyuluh ke tingkat pusat memang memicu kekhawatiran tersendiri. Padahal, peran mereka sangat vital sebagai ujung tombak penyalur pengetahuan dan teknologi pertanian di lapangan. Tanpa bimbingan yang intens, proses transisi petani menuju sistem mekanisasi dan pemakaian benih unggul diprediksi bisa berjalan lambat.

​Guna menyiasati keterbatasan personel di dinas, Pemkab Banjar kini menggenjot kolaborasi lintas sektor dan memberdayakan kelembagaan kelompok tani agar bisa lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada pendampingan formal.

​Meski dirundung berbagai rintangan, Kabupaten Banjar berhasil membuktikan tajinya dengan menduduki peringkat kedua sebagai daerah penghasil padi terbesar di Kalimantan Selatan, persis di bawah Kabupaten Barito Kuala.

​Data produksi gabah kering giling menunjukkan grafik positif:
​Tahun 2024: 153.538 ton
​Tahun 2025: 166.001 ton

​Peningkatan yang menyentuh angka hampir 12 ribu ton ini bukan sekadar statistik biasa. Lonjakan ini menjadi pilar penting untuk menyukseskan ambisi swasembada pangan nasional yang didengungkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

​Salah satu bermanuver untuk memperluas lahan garapan adalah melalui program cetak sawah. Dari rancangan awal seluas 2.791,97 hektare yang membentang di delapan kecamatan, sejauh ini realisasi fisiknya baru menyentuh 1.075,78 hektare.

​Kendalanya berpusat pada anomali cuaca. Proyek yang digarap mulai September lalu ini langsung dihantam oleh curah hujan ekstrem yang lebih cepat datang. Tingginya debit air memicu genangan berlebih, sehingga mematikan pergerakan alat-alat berat di lokasi.

​Menyikapi cuaca yang tak menentu, agenda tahun 2026 akan diarahkan pada optimalisasi lahan pasca-cetak sawah yang sudah terbentuk. Apabila genangan air mulai mereda pada bulan Maret ini, pengerjaan lanjutan ditargetkan bisa segera dikebut.

​Untuk memastikan ritme produksi tidak anjlok, Pemkab Banjar telah merumuskan enam fokus utama:
​1). Melakukan optimalisasi lahan (oplah).
​2). Menyalurkan bantuan alat mesin pertanian serta sarana produksi.
​3). Memperbaiki fasilitas jalan usaha tani dan jaringan irigasi.
​4). Memaksimalkan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
​5). Memitigasi bencana dan adaptasi terhadap iklim ekstrem.
​6). Memperkokoh kelembagaan di kalangan tani.

Pemerintah setempat juga tidak ingin hanya terpaku pada satu komoditas. Diversifikasi tanaman hortikultura seperti bawang merah, cabai, jeruk, pisang, hingga durian terus didorong.

​Di sektor perkebunan, kopi kini mulai dilirik serius. Melihat fenomena banyaknya kedai kopi di Kalimantan yang masih mengimpor biji kopi dari luar pulau, terdapat peluang ekonomi yang sangat menjanjikan jika bahan baku bisa dipasok secara lokal. Sementara itu, untuk menjamin ketersediaan protein hewani, sektor peternakan memfokuskan programnya pada perkembangbiakan itik dan penerapan inseminasi buatan pada sapi.

​Tahun 2026 adalah momen krusial untuk membuktikan apakah Kabupaten Banjar dapat mempertahankan gelarnya sebagai lumbung pangan andalan Kalsel, atau justru tersandung oleh persoalan struktural yang belum tuntas.

​Keberhasilan di masa depan sangat bergantung pada kelihaian beradaptasi dengan iklim, percepatan modernisasi, serta ketangguhan SDM. Tanpa pembenahan holistik, rekor panen tahun lalu mungkin hanya akan menjadi catatan sejarah sesaat. Sebaliknya, dengan taktik yang presisi dan sinergi kebijakan, Kabupaten Banjar bisa berdiri kokoh sebagai salah satu tonggak ketahanan pangan Nusantara.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka