BerandaPendidikanOuting Class ke Pulau...

Outing Class ke Pulau Curiak, Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi ULM Dalami Praktik Komunikasi Lingkungan

Terbaru

BARITO KUALA – Mahasiswa Program Magister (S2) Ilmu Komunikasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengikuti kegiatan outing class ke Pulau Curiak, Minggu (12/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk memperdalam pemahaman tentang komunikasi lingkungan dan resiliensi bencana.

Perjalanan dimulai dari Siring Menara Pandang Banjarmasin menggunakan perahu klotok, menyusuri Sungai Martapura hingga Sungai Barito sebelum tiba di lokasi tujuan.

Setibanya di Pulau Curiak, mahasiswa mengikuti kegiatan di Stasiun Riset Bekantan yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia. Di lokasi ini, mereka tidak hanya mengamati langsung habitat bekantan, tetapi juga mempelajari praktik komunikasi dalam mendukung upaya konservasi.

Pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, Amalia Rizki, menyampaikan bahwa upaya pelestarian di Pulau Curiak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sejak 2018, populasi bekantan meningkat signifikan dari 14 menjadi 58 individu.

“Alhamdulillah, ini merupakan hasil dari kerja kolaboratif berbagai pihak dalam menjaga habitat bekantan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, luas Pulau Curiak mengalami peningkatan dari 2,7 hektare menjadi 3,9 hektare. Hal ini terjadi berkat penanaman pohon rambai yang berperan penting dalam memperkuat ekosistem habitat bekantan.

Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Fahrianoor, menegaskan bahwa outing class menjadi metode pembelajaran penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat langsung praktik di lapangan.

“Mahasiswa perlu memahami bagaimana komunikasi lingkungan dilakukan secara nyata, mulai dari edukasi hingga membangun kesadaran publik,” katanya.

Salah satu mahasiswa, Benny Wijaya, menilai Pulau Curiak memiliki nilai edukatif yang kuat, tidak sekadar menjadi destinasi wisata.

“Pulau ini membawa pesan penting tentang pelestarian lingkungan. Jadi, pengunjung tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar memahami pentingnya konservasi,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa lainnya, Syawli Syahri, menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam komunikasi lingkungan.

“Masyarakat harus menjadi bagian dari proses komunikasi lingkungan, karena mereka dapat berperan sebagai penyampai pesan konservasi kepada pengunjung,” katanya.

Ia menambahkan, tanggung jawab menjaga bekantan tidak hanya berada pada masyarakat sekitar, tetapi seluruh masyarakat Kalimantan Selatan.

“Bekantan adalah maskot daerah yang harus dijaga bersama. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikannya agar tidak punah,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami peran strategis komunikasi dalam mendukung pelestarian lingkungan, sekaligus mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga ekosistem lahan basah di Kalimantan Selatan.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka