BerandaHabar BanjarPenantian Panjang Berbuah Manis:...

Penantian Panjang Berbuah Manis: Tarbiatul Aulad Kampiun Festival Bacatuk Dauh 2026

Terbaru

Penantian Panjang Berbuah Manis: Tarbiatul Aulad Kampiun Festival Bacatuk Dauh 2026

MARTAPURA — Gempita pelestarian budaya lokal kembali mewarnai Kabupaten Banjar lewat ajang tahunan Festival Bacatuk Dauh 2026. Memasuki edisi ketujuh sejak bergulir perdana pada tahun 2018, kompetisi yang digawangi oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar ini terus konsisten menjaga muruah tradisi religius masyarakat setempat. Pada perhelatan tahun ini, semangat tersebut dirangkum dalam tema “Melalui Festival Bacatuk Dauh Kita Lestarikan Budaya Banjar”, Rabu (4/3/2026).

Fase penyisihan yang berlangsung pada 10–12 Februari 2026 sukses menyedot partisipasi 21 grup. Dari puluhan peserta tersebut, tersaring sembilan finalis yang berhak melaju ke babak pamungkas di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha, Martapura. Seluruh finalis beradu kebolehan demi merebut trofi Bergilir Bupati Banjar, uang pembinaan, serta piagam penghargaan.

​Pertarungan di babak grand final terbukti amat ketat. Grup Tarbiatul Aulad akhirnya keluar sebagai pemenang, menggeser juara bertahan tahun sebelumnya, Grup Al Munir, dengan keunggulan yang sangat tipis, yakni hanya satu poin.

​Menanggapi ketatnya perlombaan, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Banjar sekaligus juri, Muhammad Syahid, mengungkapkan.

​“Empat grup sebetulnya berselisih satu poin saja. Itu menunjukkan persaingan sangat ketat karena mereka sama-sama berlatih keras.”

​Ia juga menegaskan bahwa sistem penjurian murni berlandaskan penghitungan yang objektif dan independen.

​“Pada saat di-scoring langsung terlihat nilainya sangat tipis. Hanya ada satu dua grup yang kami diskusikan kembali, selebihnya memang berdasarkan angka yang objektif.”

Kemenangan ini menjadi klimaks dari perjuangan berliku tim Tarbiatul Aulad. Koordinator grup, Raden, membagikan kisah kegigihan timnya yang berlatih intensif selama dua bulan penuh demi memutus rekor buruk mereka di tahun-tahun sebelumnya.

​“Perjuangan bertahun-tahun. Sekitar lima tahun ikut tapi tidak masuk final. Akhirnya tahun ini masuk final dan langsung juara satu.”

Raden juga mengekspresikan kebahagiaan atas usaha mereka yang membuahkan hasil, dan ini pasti akan mengangkat pamor kampung halaman mereka.

​“Pastinya senang. Marwah kampung juga naik, khususnya Desa Mekar.”

Kepala Disbudporapar Kabupaten Banjar, Irwan Jaya, menilai ajang tahun ini mengalami lonjakan kualitas yang patut diacungi jempol dari berbagai aspek penampilan.

​“Alhamdulillah poin-poinnya meningkat. Banyak sekali peningkatan dari segi penampilan, kostum, sampai kekompakan. Penilaian yang diberikan dewan juri benar-benar objektif.”

​Keikutsertaan kelompok generasi muda juga menjadi sorotan positif tersendiri baginya dalam upaya estafet pelestarian tradisi.

​“Tahun ini ada generasi muda yang ikut sebagai pelestari. Itu yang menjadi nilai plus dibanding tahun sebelumnya.”

​Melihat antusiasme budaya yang luar biasa, Irwan berencana untuk memperluas jangkauan festival ke wilayah yang lebih besar di masa mendatang.

​“Insyaallah nanti akan kita sampaikan kepada Bupati, mudah-mudahan lingkupnya bisa diperluas minimal Banjarbakula, yaitu Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.”

​Harapan serupa disuarakan oleh Wakil Bupati Banjar saat membuka malam grand final. Beliau menargetkan panggung kebudayaan ini bisa menjangkau skala yang lebih masif.

​“Mudah-mudahan ke depan skalanya bisa ditingkatkan sampai tingkat provinsi.”

​Beliau turut menekankan pentingnya festival ini sebagai medium edukasi nilai budaya kepada anak muda di tengah arus modernisasi.

​“Dengan adanya festival ini, generasi muda bisa lebih mengenal Bacatuk Dauh. Jangan sampai budaya ini ditinggalkan karena ini warisan kita.”

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka