BANJARBARU – Upaya pencegahan sekaligus percepatan penurunan stunting terus digencarkan di Kabupaten Banjar. Hal ini ditegaskan dalam Pertemuan Advokasi Lintas Program dan Sektor yang digelar di Aula 2 Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, Kamis (25/9/2025).
Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Dian Marliana, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kondisi stunting di Kabupaten Banjar masih cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil SSGI 2023, prevalensi stunting tercatat 30,1 persen dan meningkat menjadi 32,3 persen pada 2024.
“Berbagai intervensi sebenarnya sudah dilakukan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Namun hal ini justru menjadi motivasi kami untuk semakin optimal dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Tahun ini, Kabupaten Banjar mendapat program dari Kementerian Kesehatan dengan lokus di Kecamatan Astambul dan Kecamatan Karang Intan. Selain itu, pemerintah daerah juga menjalankan program MBG Sekolah serta MBG 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD.
Sementara itu, Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin sekaligus penanggung jawab Program INEY Fase 2, Dr. Meilla Dwi Andrestian, S.P., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Investing in Nutrition and Early Years (INEY) yang melibatkan 38 Poltekkes se-Indonesia.
“Poltekkes berperan sebagai pendamping program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Oleh karena itu, kami menggelar advokasi bersama lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, Bappeda, Dinas Pendidikan, Kemenag, camat, lurah, puskesmas, hingga kader gizi,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil analisis yang dilakukan bersama Dinas Kesehatan menetapkan Puskesmas Astambul dan Puskesmas Karang Intan sebagai lokus pendampingan, berdasarkan angka prevalensi stunting, jumlah balita sasaran, serta kondisi wilayah. Pendampingan meliputi edukasi pemberian makanan tambahan bagi balita, pelatihan kader posyandu, hingga penguatan program tablet tambah darah bagi remaja putri.
“Edukasi bagi remaja putri, calon ibu hamil sangat penting, karena anemia pada mereka dapat meningkatkan risiko melahirkan anak stunting. Pencegahan harus dimulai sejak dini,” tegas Meilla.
Kegiatan yang dilaksanakan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin bersama Kementerian Kesehatan RI serta didukung Pemkab Banjar ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antar sektor, sehingga penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Banjar berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

