BerandaHabar BanjarbaruPLN dan Borneo Indobara...

PLN dan Borneo Indobara Teken 23.040 REC, Perkuat Energi Bersih di Sektor Tambang

Terbaru

PLN dan Borneo Indobara Teken 23.040 REC, Perkuat Energi Bersih di Sektor Tambang

Banjarbaru — Transformasi energi bersih di sektor industri pertambangan semakin konkret. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bersama PT Borneo Indobara (BIB) menegaskan komitmen tersebut melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC). Berlangsung di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu (8/2), BIB resmi menambah pembelian REC sebanyak 23.040 unit atau setara 40.000 megavolt ampere (MVA) listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

REC merupakan sertifikat digital yang merepresentasikan atribut lingkungan dari satu megawatt hour (MWh) listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, seperti surya, air, atau panas bumi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa listrik yang digunakan pelanggan didukung kontribusi EBT, meskipun secara teknis penyalurannya tetap melalui sistem jaringan terpadu PLN yang menggabungkan berbagai sumber energi.

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi wujud nyata dukungan PLN terhadap transisi energi di sektor industri nasional.

“PLN berkomitmen penuh mendukung daya saing industri nasional melalui pemanfaatan energi bersih yang ramah lingkungan. Kami menghadirkan opsi layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok dari pembangkit berbasis EBT melalui layanan REC,” ujar Adi.

Kerja sama ini tidak sekadar transaksi sertifikat, melainkan langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah tuntutan global terhadap dekarbonisasi dan praktik keberlanjutan.

Chief Operating Officer BIB, Raden Utoro, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. Ia menilai dukungan PLN sangat penting dalam mendukung implementasi program Green Mining Realization di lingkungan operasional perusahaan.

“Kami mengapresiasi dukungan PLN. Kerja sama ini sangat krusial karena keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan utama, mengingat gangguan pasokan dapat berdampak langsung pada aktivitas operasional tambang,” katanya.

Ia menambahkan, keandalan pasokan listrik bersih menjadi kebutuhan strategis seiring pengembangan titik tambang BIB. Dukungan teknis dan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk transmisi dan pembangunan gardu induk, diyakini mampu menopang kebutuhan daya puncak yang diproyeksikan mencapai 200–240 MVA pada 2028.

“Program ini termasuk yang pertama berskala besar di Indonesia, dengan target elektrifikasi pada 2026 mencapai 25 persen armada alat berat berbasis listrik, meningkat menjadi 75 persen pada 2028, serta mengarah pada target nol emisi pada 2028–2029,” kata Raden.

General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyambut positif langkah PT BIB tersebut. Ia menegaskan bahwa penjualan 23.040 unit REC ini menjadi capaian terbesar di wilayah Kalimantan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan PT Borneo Indobara kepada PLN,” katanya.

Lebih lanjut, Iwan meyakini kolaborasi ini dapat menjadi tolok ukur transformasi energi bersih di sektor pertambangan nasional. Dengan pasokan listrik yang andal dan berkualitas, PLN siap mendukung pertumbuhan industri sekaligus membantu pencapaian target lingkungan di era transisi energi.

Sinergi antara penyedia listrik nasional dan pelaku industri ini menunjukkan bahwa upaya menuju net zero emissions dilakukan melalui langkah nyata dan terukur. Kolaborasi tersebut diharapkan mendorong praktik pertambangan yang lebih efisien, bersih, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia terhadap agenda keberlanjutan global.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka