BerandaHabar BanjarRakoor Satgas Percepatan MBG...

Rakoor Satgas Percepatan MBG Bahas Evaluasi SPPG dan Temuan E. coli di Dapur Tungkaran

Terbaru

MARTAPURA – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pelaksanaan Makanan Bergizi (MBG) Kabupaten Banjar menggelar Rapat Koordinasi (Rakoor) bersama seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Banjar, Selasa (14/10/2025), di Aula Berlian Guest House Sultan Sulaiman, Martapura.

Rapat yang dipimpin oleh Penjabat Sekretaris Daerah (PJ Sekda) Kabupaten Banjar, H. Ikhwansyah, tersebut membahas dua agenda utama, yakni evaluasi pelaksanaan kegiatan di enam kecamatan tertinggal, terluar, dan terdepan, serta evaluasi kinerja sepuluh SPPG yang telah berjalan.

“Pertama, kita mengevaluasi persiapan enam kecamatan yang termasuk kategori tertinggal, terluar, dan terdepan. Yang kedua, kita juga mengumpulkan sepuluh SPPG yang sudah berjalan agar pengolahan bahan makanan dilaksanakan sesuai dengan pedoman, juklak, dan juknis dari Badan Gizi Nasional,” jelas H. Ikhwansyah usai kegiatan.

Ia menegaskan, kepatuhan terhadap pedoman tersebut sangat penting agar kejadian keracunan makanan tidak terulang kembali.

“Kita berharap pengalaman buruk yang sudah terjadi menjadi pelajaran bersama. Kabupaten Banjar ini cukup luas, terdiri dari 20 kecamatan, 277 desa, dan 13 kelurahan. Kita tidak ingin kejadian serupa muncul lagi, terutama di daerah yang sulit dijangkau,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr. H. Nooripansyah, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel dari dapur SPPG di Desa Tungkaran menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air yang digunakan.

“Secara mikrobiologi, ditemukan bakteri E. coli dalam air dapur tersebut. Selain itu, sampel makanan juga menunjukkan angka bakteri melebihi ambang batas — yang seharusnya di bawah 1,1, tapi hasilnya lebih dari itu,” ungkapnya.

Menurut Noripansyah, keberadaan bakteri tersebut dapat menimbulkan toksin penyebab gejala seperti sakit perut, mual, dan muntah, sebagaimana dialami beberapa anak penerima manfaat program MBG.

“Harusnya angka E. coli pada sumber air yang digunakan itu nol, tapi hasil menunjukkan sekitar 265,” tambahnya.

Ia menjelaskan, penyebab munculnya bakteri bisa berasal dari berbagai faktor, seperti kualitas sumber air yang kurang layak atau kebersihan saat proses pengolahan makanan yang belum optimal.

“Kalau dari sisi air, bisa jadi karena sumbernya terlalu dekat dengan area resapan. Tapi itu masih menunggu hasil uji kualitas lingkungan. Untuk sampel makanan, mungkin kebersihan dan pengetahuan penjamah makanan yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Dinas Kesehatan akan mengadakan pelatihan bagi seluruh relawan penjamah makanan pada Sabtu mendatang. “Pelatihan ini juga menjadi syarat penerbitan Surat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS). Ke depan, kami menganjurkan setiap dapur melakukan pemeriksaan air secara berkala dan menjaga kebersihan alat penyaring agar dapur-dapur tetap sehat, higienis, dan bebas dari E. coli,” tutup Noripansyah.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka