Ramadan 2026 di Banjar: Pasar Wadai Tak Lagi Terpusat, Tradisi Bacatuk Badauh Jalan Terus
MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar menetapkan kebijakan baru terkait semarak bulan suci Ramadan tahun ini. Tradisi menggelar Pasar Wadai Ramadan secara terpusat yang biasa dilakukan tahun-tahun sebelumnya, kini resmi ditiadakan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Pergeseran pola ekonomi masyarakat menjadi faktor utama, di mana sentra-sentra kuliner dadakan kini tumbuh subur secara organik di berbagai sudut kota tanpa perlu dikonsentrasikan di satu titik.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar, Irwan Jaya, pada Selasa (10/2/2026), menyoroti fenomena sebaran pedagang yang kini sudah meramaikan kawasan seperti Jalan Sasaran, Tanjung Rema, hingga area perkotaan Martapura lainnya.
“Pasar wadai itu sekarang sudah tumbuh sendiri di banyak tempat. Masyarakat sudah membuka usahanya masing-masing, tidak lagi terpusat di satu lokasi seperti dulu,” ujar Irwan.
Melihat kemandirian ekonomi masyarakat tersebut, Pemkab Banjar memilih untuk tidak lagi memobilisasi pedagang dalam satu acara besar atau Pasar Ramadan khusus. Kendati demikian, peran pemerintah tidak hilang sepenuhnya. Para pedagang yang berada di bawah naungan Perumda Pasar tetap akan mendapatkan perhatian.
“Insya Allah tetap ada fasilitasi dari Perumda Pasar bagi pedagang-pedagang binaan untuk menyelenggarakan kegiatan pasar Ramadan, hanya saja tidak lagi dalam bentuk kegiatan besar yang disentralisasi,” jelasnya.
Meski pusat kuliner ditiadakan, atmosfer Ramadan di Kabupaten Banjar dipastikan tidak akan sepi. Agenda kebudayaan tetap menjadi prioritas pemerintah daerah untuk memeriahkan bulan puasa, salah satunya dengan mempertahankan gelaran Festival Bacatuk Badauh.
“Untuk kegiatan pendukung Ramadan tetap ada. Festival Bacatuk Badauh insya Allah tetap kita laksanakan, mudah-mudahan di awal-awal Ramadan,” kata Irwan.
Langkah ini diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi UMKM lokal untuk berkembang secara mandiri di wilayahnya masing-masing, sembari tetap melestarikan tradisi budaya daerah yang menjadi ciri khas Ramadan di Martapura.


