BerandaSosialRekam Aktivitas Seksual, Psikolog...

Rekam Aktivitas Seksual, Psikolog Klinis Sebut Akibat Dorongan Erotisme Tak Terkendali

Terbaru

BANJARMASIN – Jagat maya khususnya di Kalimantan Selatan beberapa hari terakhir dibuat resah dengan beredarnya video viral dugaan hubungan sesama jenis atau homoseksual.

Kasus ini ditengarai melibatkan Selebgram asal Balangan yang belakangan akun media sosial bersangkutan sudah tak bisa ditemukan.

Persoalan ini pun memicu kekhawatiran banyak pihak, bahkan Polda Kalsel menegaskan kasus tersebut kini terus bergulir di tahap penyelidikan dan sudah memanggil sejumlah saksi.

Video dugaan asusila yang diduga diperankan sesama jenis ini juga dapat perhatian dari Psikolog Klinis RSUD dr.H.Moch.Ansari Saleh, Melinda Bahri,S.Psi,Psikolog.

Menurutnya, seseorang akan condong pada kepribadian homoseksual akibat hambatan yang dihadapi saat proses perkembangan identifikasi seksual.

“Penerimaan akan kelamin alami tidak mengalami gangguan, namun sense of maleness dan sense of femaleness kurang optimal dalam perkembangan fungsinya,” jelasnya melalui pesan singkat kepada habarkalimantan.com, Jumat (12/12/2025) sore.

Selain itu, kondisi pergaulan yang didominasi oleh peran perempuan maupun lingkungan juga mempengaruhi seorang pria terpaksa berperan layaknya perempuan.

Ia juga menyebut lelaki pada usia remaja belum bisa berpikir secara matang, sehingga kerap kebingungan terhadap identitas jenis kelaminnya sehingga rentan terjerumus kepada kepribadian homoseksual.

“Kekecewaan berat karena ditinggal pacar lain jenis yang sangat dicintai, dalam kondisi patah hati dan kecewa atas perlakuan pacar, membuka peluang bagi kemungkinan kedekatan dengan relasi dengan orang berkepribadian homoseksual,” sambungnya.

Melinda Bahri juga menilai aktivitas seksual yang sengaja direkam, umumnya disebabkan adanya dorongan erotisme dalam diri yang tidak dapat dikendalikan.

Dirinya pun menegaskan penting bagi semua pihak khususnya orang terdekat sebagai benteng pertama mencegah kepribadian homo seksual maupun konten bertentangan dengan normal sosial, ditengah derasnya konten-konten negatif yang berseliweran di media sosial.

“Karena saat ini anak-anak tidak bisa lepas dari media sosial, namun konten-konten medsos terkadang tidak terbendung pada hal yang tidak sesuai norma. Sehingga penting peran nyata dari orang tua,” tekannya.

Selain keluarga terdekat, pemerintah juga diminta berperan aktif untuk mengatasi konten yang tidak edukatif di media sosial.

Misalnya, menetapkan batas antara kebebasan berekspresi dan perlindungan terhadap pornografi maupun konten yang merugikan anak-anak.

Lalu menegakkan undang-undang dan menjatuhkan sanksi, apabila ditemukan konten yang dinilai menyebarkan kebencian atau kekerasan.

Dari sisi pendidikan, kurikulum atau program penyuluhan juga dinilai penting guna menjelaskan identitas gender secara ilmiah dan inklusif.

“Terakhir, dukungan layanan menyediakan akses ke layanan kesehatan mental dan konseling bagi yang terdampak konten negatif,” tandasnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka