BerandaHabar BanjarbaruRunway Jadi Kendala, Rencana...

Runway Jadi Kendala, Rencana Penerbangan Umrah Langsung dari Bandara Syamsudin Noor Belum Terwujud

Terbaru

Runway Jadi Kendala, Rencana Penerbangan Umrah Langsung dari Bandara Syamsudin Noor Belum Terwujud

Banjarbaru — Rencana pembukaan penerbangan umrah langsung dari Banjarbaru menuju Arab Saudi masih belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Keterbatasan panjang landasan pacu menjadi salah satu kendala utama.

Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan, M. Fitri Hernadi, mengkonfirmasi jika penerbangan langsung ke Jeddah membutuhkan pesawat berbadan lebar dengan spesifikasi tertentu.

“Pesawat untuk rute tersebut membutuhkan landasan pacu sekitar 3.000 meter,” ujarnya.

Sementara itu, panjang runway Bandara Syamsudin Noor saat ini baru mencapai sekitar 2.500 meter, sehingga belum memenuhi kebutuhan operasional pesawat untuk penerbangan jarak jauh.

Menurut Hernadi, realisasi rute internasional ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga keputusan maskapai yang mempertimbangkan aspek teknis dan bisnis.

“Maskapai akan melihat potensi pasar dan kesiapan teknis sebelum membuka rute,” jelasnya.

Dari sisi trafik, jumlah penumpang di bandara tersebut saat ini berada di kisaran 3,1 hingga 3,2 juta orang per tahun. Angka ini dinilai belum cukup untuk mendorong pengembangan besar seperti perpanjangan runway.

“Untuk pengembangan seperti itu, idealnya jumlah penumpang bisa mencapai sekitar 5 juta per tahun,” katanya.

Ia berharap ke depan ada kolaborasi antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya agar rencana penerbangan langsung tersebut dapat terwujud.

Sementara itu, General Manager Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, Stephanus Millyas Wardana, mengatakan pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan sejumlah maskapai terkait peluang pembukaan rute internasional, termasuk ke Jeddah dan Singapura.

Namun hingga kini, belum ada maskapai yang memberikan respons positif, terutama untuk rute langsung ke Jeddah yang dinilai membutuhkan dukungan infrastruktur lebih besar.

“Maskapai cenderung menginginkan penerbangan langsung, sementara kondisi saat ini masih menjadi tantangan,” ujarnya.

Pengelola bandara saat ini masih fokus pada optimalisasi fasilitas yang ada, mengingat terminal baru mulai beroperasi sejak 2020. Adapun rencana pengembangan seperti perpanjangan runway tetap menjadi agenda jangka panjang.

Sebagai alternatif, pihak bandara mempertimbangkan skema technical landing atau transit teknis sebagai solusi sementara untuk membuka peluang penerbangan ke Arab Saudi.

“Untuk saat ini, opsi tersebut lebih realistis sambil menunggu perkembangan ke depan,” tutupnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka