BerandaHabar BanjarbaruSengketa Tanah 4 Hektare...

Sengketa Tanah 4 Hektare di Loktabat Utara, Petani Terhambat Akses karena Pagar Kawat

Terbaru

Banjarbaru – Sengketa lahan seluas sekitar 4 hektare di Jalan Pondok Mangga, RT 19, RW 08, Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, menimbulkan dampak langsung bagi petani setempat. Akses menuju lahan pertanian terhambat akibat adanya pagar kawat yang didirikan di area sengketa.

Lurah Loktabat Utara, M. Fuad Rachman, menjelaskan bahwa mediasi telah digelar dengan menghadirkan dua pihak yang berselisih, yakni PT Megah Prestasi serta kuasa dari empat Surat Keterangan Tanah (SKT).

“Dari hasil mediasi, ternyata kedua belah pihak sama-sama memiliki bukti kepemilikan. Satunya berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang dikeluarkan BPN, dan satunya lagi berupa SKT tahun 1993,” ungkapnya pada saat diwawancarai, Senin (15/9/2025).

Karena kedua belah pihak memiliki legalitas, mediasi tidak menghasilkan kesepakatan final.

“Kita sarankan untuk dilanjutkan ke pengadilan negeri atau ke BPN, karena itu produk dari badan pertanahan, bukan kelurahan. Hari ini disepakati kedua pihak akan melanjutkan ke BPN,” jelasnya.

Sementara itu, para petani belum bisa mengakses lahan akibat adanya pagar kawat yang menutup jalan masuk. Namun pihak kelurahan berupaya mencari solusi.

“Untuk sementara petani memang belum mendapat izin dari pihak pemilik empat surat itu. Tapi sore ini kita akan panggil lagi mereka untuk mengupayakan agar ada akses keluar masuk bagi petani. Tidak untuk membongkar pagar, tapi setidaknya ada jalan yang bisa digunakan,” tambahnya.

Maman, Seorang Petani Berdiri di Depan Kebun Pepaya yang Dipagari Kawat Berduri (Foto:ist)

Seorang petani setempat, Maman, mengaku kesulitan akibat akses yang tertutup total.

“Itu dipagar rapat semua. Dampaknya banyak, kita ini mau membawa pupuk ke dalam otomatis enggak bisa. Apalagi sekarang sudah masuk masa panen pepaya. Tengkulak kemarin mau masuk saja enggak berani karena sudah dipagar dan ada plakatnya,” ujarnya.

Maman juga menambahkan, jalan akses lain tidak tersedia.

“Satu-satunya akses ya cuma ini. Kami lewat sini untuk antar pupuk, keluarkan hasil bumi, sayur-sayuran. Berhubung ditutup total, kita enggak bisa bergerak, enggak bisa apa-apa,” tutupnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka