Siasat Perajin Tahu dan Tempe Kalsel Hadapi Lonjakan Harga Kedelai: Antara Naikkan Harga atau Pangkas Ukuran
BANJARBARU – Melonjaknya harga kedelai di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga menyentuh kisaran Rp11.000 per kilogram memberikan tekanan yang cukup besar bagi para perajin tahu dan tempe. Tren kenaikan bahan baku utama industri rumahan ini turut dibenarkan oleh Sony, salah seorang distributor kedelai yang beroperasi di Pasar Arummanis Banjarmasin.
”Harga hari ini 10.850 per kilogram. Ada kenaikan dari sebelum lebaran Rp200 Kilogram,” kata Sony singkat.
Kondisi bahan baku yang meroket ini memaksa para produsen memutar otak untuk menekan biaya produksi agar tidak merugi. Pilihan yang tersedia umumnya hanya dua: menaikkan harga jual ke pasaran atau memperkecil ukuran produk.
Habib Afrizal, seorang perajin tahu padat di kawasan Jalan Abadi 3, mengambil langkah tegas dengan menyesuaikan harga jual produknya akibat lonjakan kedelai impor tersebut.
”Karena harga kedela naik. Jadi kami pilih menaikkan harga. Tahu per loyang Rp 32 ribu naik Rp.3000 perloyang sehingga kini harga Rp 35 ribu perloyang,” urainya.
Di sisi lain, Novi yang meneruskan usaha tahu pong goreng Pak Surip di Jalan Abadi III, Banjarbaru, mengaku masih menahan harga jual karena proses produksinya tertolong oleh ketersediaan stok kedelai lama.
”Sekarang harganya per biji Rp400. Kalau perkotak itu Rp120.000. Sejauh ini belum ada kenaikan harga. Terakhir harga naik 4 tahun lalu dari harga Rp250 per biji sekarang menjadi Rp 400 per biji,” kata Novi.
Namun, ia tak menampik adanya kemungkinan revisi harga apabila tren kenaikan bahan dasar ini tidak kunjung surut.
”Yang kemungkinan naik harga terpaksa ya karena bahan baku naik, jadi harganm tahunya dinaikin juga,” kata Novi.
Strategi berbeda diterapkan oleh Suwandi. Pemilik pabrik tahu di Jalan Intan Sari 2 yang rutin memasok produknya ke Pasar Sentral Sekumpul Martapura dan Sungai Tabuk ini memilih untuk tidak membebani konsumen dengan harga baru, melainkan menyusutkan volume tahu yang ia cetak.
”Kami pilih mengecilkan ukuran tahu mas,” kata Suwandi yang memulai usahanya sejak 1992 itu.
Gelombang kenaikan harga kedelai juga berimbas pada produsen tempe di Banjarbaru. Gimala, seorang pengusaha pabrik tempe di Jalan Mufakat, Loktabat Selatan, masih berupaya mempertahankan harga normal walau bersiap mengambil langkah jika situasi mendesak.
”Kami masih tetap jual Rp 5000 per potong. Tapi kalau nanti harga kedelai naik lagi ya terpaksa naik juga,” kata Gimala.
Sementara itu, Produsen Tempe Rizki yang juga berlokasi di Loktabat sudah lebih dulu mengambil tindakan adaptif dengan memangkas ukuran produk untuk meredam tingginya ongkos produksi.
”Kalau di kami (tempe rizki) harga tetap, tapi ukuran agak kecil,” tambahnya.
Di tingkat pengecer, dampak kenaikan harga bahan baku industri ini nyatanya belum sepenuhnya mengubah harga pasar. Yulianti, seorang pedagang sayur di Banjarbaru, menuturkan bahwa harga tempe dan tahu yang ia ecerkan ke masyarakat masih stabil.
”Tetap sama harga Rp satu bungkus Rp6000 isi 10,” kata Yulianti.
Di tengah ketidakpastian harga kedelai saat ini, Yulianti hanya bisa menaruh harapan agar pihak pabrik dapat terus menahan harga modal agar daya beli masyarakat tidak menurun.
”Mudah mudahan tidak naik saja harganya,” kata Yulianti.
