BerandaLingkunganULM Garap Laboratorium Mangrove...

ULM Garap Laboratorium Mangrove 600 Hektare di Kotabaru, Siap Jadi Magnet Riset Dunia

Terbaru

Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) terus tancap gas dalam pengembangan riset lingkungan. Kali ini, kampus tertua di Kalimantan Selatan itu tengah menyiapkan Laboratorium Mangrove Tropis seluas 600 hektare di Kabupaten Kotabaru—yang disebut-sebut menjadi satu-satunya di Indonesia.

Melalui Unit Penunjang Akademik Lingkungan Lahan Basah (UPA LLB), proyek ini tidak hanya difokuskan sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai pusat riset lapangan bertaraf internasional. Nantinya, lokasi ini akan menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti, akademisi, hingga mitra global dalam mengkaji ekosistem mangrove secara menyeluruh.

Kepala UPA LLB ULM, Maya Amalia, mengatakan kawasan laboratorium ini tersebar di enam desa di Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar dan Pulau Laut Kepulauan. Dengan luasan mencapai ratusan hektare, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan berbasis lingkungan.

Kepala UPA LLB ULM, Maya Amalia ketika diwawancarai. Foto : HK

“Berdasarkan penelitian awal pada 2025, terdapat sekitar 14 jenis mangrove dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Ini menjadi modal utama untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat riset kelas dunia,” ujar Maya.

Ia menegaskan, laboratorium ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Hasil riset yang dilakukan diharapkan bisa langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, khususnya dalam pengelolaan mangrove berkelanjutan.

ULM juga membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya bagi peneliti internasional yang tertarik mengkaji ekosistem mangrove tropis. Terlebih, karakteristik mangrove di Kotabaru dinilai unik dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

“Kerapatan mangrove di beberapa titik sangat baik, meski ada juga area yang perlu direhabilitasi. Lokasi tersebut nantinya akan menjadi fokus penanaman bersama mitra,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, kawasan ini juga akan mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Tiga kementerian, yakni Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kemendiktisaintek dijadwalkan melakukan kunjungan antara Mei hingga Juli 2026.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk melakukan observasi lapangan sekaligus menyusun langkah strategis pengembangan kawasan, baik dari sisi regulasi maupun teknis pengelolaan jangka panjang.

“Ini bukan seremoni peletakan batu pertama, melainkan koordinasi untuk memastikan arah pengembangan kawasan berjalan komprehensif dan berkelanjutan,” tambah Maya.

Ke depan, Laboratorium Mangrove Tropis ULM diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan, dalam peta riset global. Lebih dari itu, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi salah satu garda terdepan dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian hutan mangrove.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka