BerandaHabar BanjarSukses Ubah Kebiasaan dan...

Sukses Ubah Kebiasaan dan Hapus Stigma Imunisasi, Program Keluarga SIGAP di Banjar Tuai Apresiasi

Terbaru

Sukses Ubah Kebiasaan dan Hapus Stigma Imunisasi, Program Keluarga SIGAP di Banjar Tuai Apresiasi

MARTAPURA – Perubahan perilaku kesehatan masyarakat di Kabupaten Banjar menunjukkan tren positif pasca intervensi Program Keluarga SIGAP yang berjalan sejak 2023. Hal ini terungkap dalam acara Diseminasi dan Serah Terima Program Keluarga SIGAP di Grand Qin Hotel, Banjarbaru, Selasa (10/2/2026) pagi.

​Team Leader Program Keluarga SIGAP, Ardi Prastowo, mengungkapkan bahwa keberhasilan program tidak hanya terlihat dari angka statistik, tetapi juga dari perubahan pola hidup sehari-hari di tingkat keluarga.

​”Contoh paling terlihat adalah kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Kini, seorang ayah yang baru pulang bekerja tidak lagi langsung menggendong anaknya, melainkan mencuci tangan terlebih dahulu. Keterlibatan ayah meningkat,” ujar Ardi.

​Selain itu, Ardi menyoroti perubahan pola pikir terkait imunisasi. Jika sebelumnya banyak orang tua takut anaknya demam pasca imunisasi (KIPI), kini kesadaran bahwa imunisasi adalah investasi masa depan anak semakin menguat.

​Capaian ini didukung data yang menunjukkan 96% orang tua merasa terbantu dengan alat bantu gizi SIGAP dalam mengatur pola makan anak.

​Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banjar, dr. Widya Wiri Utami, mengonfirmasi dampak tersebut. “Program ini sangat membantu Dinas Kesehatan, khususnya dalam mengubah perilaku masyarakat pada tiga fokus utama: imunisasi, CTPS, dan konsumsi makanan bergizi,” katanya.

​Untuk menjaga agar kebiasaan baik ini tidak luntur setelah program berakhir, strategi integrasi dengan desa telah disiapkan. Ardi menjelaskan bahwa para Kepala Desa telah diberikan pelatihan oleh Kementerian Desa (Kemendes) mengenai pemanfaatan Dana Desa untuk keberlanjutan program kesehatan ini.

​”Tujuan besar kita adalah menciptakan Generasi Emas 2045. Karena itu, kolaborasi antara Dinkes, Bappedalitbang, dan Pemerintah Desa sangat penting untuk memastikan program ini tidak berhenti di sini,” tutup dr. Widya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka