BerandaHabar BanjarPopulasi Kian Menyusut, Ternak...

Populasi Kian Menyusut, Ternak Kerbau di Kabupaten Banjar Tergerus Perubahan Lahan dan Reproduksi yang Lambat

Terbaru

Populasi Kian Menyusut, Ternak Kerbau di Kabupaten Banjar Tergerus Perubahan Lahan dan Reproduksi yang Lambat

MARTAPURA – Beternak kerbau pernah menjadi salah satu tradisi kuat bagi masyarakat di Kabupaten Banjar untuk melengkapi komoditas sapi dan kambing. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, jumlah mamalia bertanduk melengkung ini perlahan merosot tajam jika dibandingkan dengan masa kejayaannya di tahun-tahun lalu.

​Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) dari Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh. Lulu Vila Vardi, mengungkapkan bahwa eksistensi peternak hewan ini masih terpusat di dua wilayah kecamatan. Hal tersebut disampaikannya pada Kamis (26/02/2026).

​“Secara tradisional, Kabupaten Banjar memang memiliki kerbau, sama seperti di Hulu Sungai Utara. Kita ada dua lokasi sentra, pertama di Cintapuri Darussalam dan kedua di Aranio,” ungkapnya.

​Lebih jauh, drh. Lulu memaparkan bahwa perbedaan bentang alam di kedua kecamatan tersebut turut menentukan jenis hewan yang dipelihara oleh para peternak.

​“Kalau di Aranio itu lebih seperti kerbau sungai atau danau. Sedangkan di Cintapuri itu kerbau rawa,” terangnya.

​Menyikapi tren penyusutan populasi belakangan ini, ia menyebutkan bahwa ada kendala biologis yang membuat hewan ini sulit berkembang biak dengan cepat.

​“Dari segi populasi memang sekarang menurun dibandingkan sebelumnya. Salah satu penyebabnya karena sistem reproduksi kerbau itu lebih lambat dibanding sapi,” jelasnya.

​Sebagai perbandingan, seekor sapi biasanya mampu beranak setiap satu hingga dua tahun. Sementara itu, kerbau membutuhkan waktu hingga dua atau tiga tahun untuk sekali masa reproduksi.

​“Jadi pertambahan populasinya memang lebih lambat. Itu salah satu faktor utama,” tambah drh. Lulu.

​Bukan sekadar faktor biologis, menyempitnya habitat asli juga menjadi pemicu lain. Ekspansi berbagai sektor usaha membuat lahan rawa di Cintapuri semakin berkurang. Sementara di wilayah Aranio, tak sedikit peternak yang memilih beralih mengurus komoditas lain seperti sapi.

​“Perubahan lingkungan dan peralihan usaha ternak juga berdampak pada penurunan populasi kerbau,” sebutnya.

​Dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan dan pasar, daging hewan ternak ini ternyata lebih sering diposisikan sebagai opsi alternatif atau pendamping daging sapi.

​“Kerbau ini sebenarnya pelengkap saja dari sapi. Kalau stok sapi habis dan ada kerbau yang dijual, biasanya pedagang memotong kerbau,” jabarnya.

​Kendati statusnya hanya sebagai pelengkap saat pasokan menipis, nilai ekonomis daging kerbau rupanya tidak jatuh dan tetap mampu bersaing.

​“Setahu saya, di pasar harganya kurang lebih sama dengan daging sapi,” tutup drh. Lulu.

​Kondisi populasi yang minim ini turut dibuktikan oleh data resmi Triwulan IV Tahun 2025. Menurut Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Asep Yusup Nugraha Siliwandi, total keseluruhan kerbau yang tersisa di Kabupaten Banjar kini hanya menyentuh angka 560 ekor.

​”Rinciannya, Kecamatan Cintapuri Darussalam sebanyak 416 ekor, Aranio 111 ekor, dan Sungai Pinang 33 ekor,” pungkasnya.

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka