Biaya Logistik dan Kemasan Naik, Harga Sejumlah Sembako di Kabupaten Banjar Merangkak Naik
MARTAPURA – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Kabupaten Banjar kembali melakukan monitoring berkala terkait perkembangan harga barang kebutuhan pokok (sembako) di pasar tradisional Martapura pada Selasa (26/5/2026) pagi. Hasil pemantauan menunjukkan adanya fluktuasi harga yang cukup signifikan pada sejumlah komoditas jika dibandingkan dengan data bulan lalu (27/4/2026).
Kenaikan paling mencolok terjadi pada sektor hortikultura, khususnya lini percabaian dan bawang, serta komoditas yang bergantung pada kemasan plastik.
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Banjar, Rachmad Ferdiansyah, membenarkan adanya tren kenaikan pada beberapa bahan pokok penting tersebut berdasarkan laporan monitoring lapangan terbaru.
”Kalau dibanding bulan lalu, harga bawang merah merangkak naik dari Rp38.000 menjadi Rp45.000 per kilogram. Komoditas ini memang terkenal sangat rawan dan fluktuatif, kadang naiknya tinggi sekali, tapi turunnya juga bisa drastis,” ujar Rachmad saat diwawancarai di Martapura, Selasa (26/5/2026).
Selain bawang, lonjakan tajam juga terjadi pada komoditas cabai. Cabai merah naik dari Rp40.000 menjadi Rp70.000 per kilogram, sementara cabai rawit menembus angka Rp100.000 per kilogram dari yang sebelumnya Rp80.000 per kilogram. Kenaikan tipis juga dialami oleh ikan kembung yang kini menyentuh Rp50.000 per kilogram (naik Rp5.000) dan tempe yang naik menjadi Rp15.000 per kilogram.
Menanggapi penyebab di balik lonjakan harga ini, Rachmad Ferdiansyah membeberkan bahwa faktor eksternal, terutama rantai pasok dan logistik, memegang peranan utama. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang memicu pembengkakan biaya transportasi disinyalir menjadi biang keladi naiknya harga pangan di pasaran.
”Faktor utamanya adalah harga bahan transportasi pengangkutan. Terus terang, saat ini solar sedang terjadi kelangkaan di lapangan. Kondisi ini otomatis meningkatkan biaya logistik pengangkutan barang,” jelasnya.
Bukan hanya masalah bahan bakar, inflasi pada industri hilir seperti harga minyak goreng kemasan sederhana, naik dari Rp19.000 menjadi Rp22.000 per liter, ini dipengaruhi oleh melonjaknya harga bahan baku produksi non-pangan.
”Untuk minyak goreng, salah satu pemicu kenaikannya adalah harga bahan baku plastik untuk pengemasan yang ikut naik di tingkat produsen. Jadi ketika biaya kemasan plastik sudah mahal, harga jual ke konsumen pun terpaksa disesuaikan,” tambahnya.
Di tengah gelombang kenaikan harga tersebut, beberapa komoditas pangan terpantau masih stabil dan bahkan cenderung turun. Harga daging sapi murni bertahan di angka Rp160.000 per kilogram, begitu pula dengan beras medium yang kokoh di harga Rp13.100 per kilogram.
Kabar baik bagi konsumen datang dari sektor peternakan dan perikanan air payau. Harga daging ayam ras mengalami penurunan tipis dari Rp23.000 menjadi Rp22.000 per kilogram. Tren positif ini diikuti oleh telur ayam ras yang turun dari Rp31.000 menjadi Rp29.000 per kilogram, serta komoditas udang yang melandai ke angka Rp60.000 per kilogram.
Pemerintah Kabupaten Banjar melalui sektor terkait menyatakan akan terus mengawal pergerakan harga ini dan melakukan koordinasi intensif guna mengantisipasi kelangkaan logistik agar tidak berdampak lebih luas pada daya beli masyarakat.



