MARTAPURA – Memasuki usia ke-76 tahun, Kabupaten Banjar semakin mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan utama atau Kindai Limpuar di Provinsi Kalimantan Selatan. Melalui sinergi lintas sektor, peningkatan produksi padi, modernisasi alat pertanian, hingga inovasi ketahanan pangan, daerah ini sukses mencetak surplus beras yang signifikan untuk menjamin ketersediaan pangan sepanjang tahun 2026.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah, mengungkapkan bahwa sektor pertanian, khususnya padi, terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, total produksi mencapai 236.947 ton Gabah Kering Panen (GKP), atau mengalami peningkatan sekitar 2.517 ton dari tahun sebelumnya (Data Dinas Pertanian Kabupaten Banjar).
”Capaian ini menempatkan Kabupaten Banjar sebagai produsen padi terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah Barito Kuala. Dari 20 kecamatan yang ada, semuanya memiliki potensi padi yang mumpuni, baik di lahan sawah maupun lahan kering atau padi gogo,” jelas Nurul, Rabu (12/8/2026).

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Kabupaten Banjar, Muhammad Hamdani, memaparkan bahwa rasio ketersediaan beras untuk tahun 2026 menyentuh angka 1 : 1,9. Angka ini menunjukan produksi pertanian di hulu berbanding lurus dengan mantapnya status ketahanan pangan di hilir.
”Artinya, hasil panen kita mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama satu tahun penuh, ditambah cadangan untuk sekitar 10 bulan ke depan. Ini belum termasuk potensi hasil panen yang berjalan pada tahun 2026,” ungkap Hamdani, Rabu (12/8/2026).
Selain surplus beras, Pemerintah Kabupaten Banjar juga berhasil menekan jumlah desa rawan pangan. Jika pada tahun 2024 terdapat 19 desa rawan pangan, angka tersebut berhasil diturunkan menjadi 16 desa pada tahun 2025. Penurunan ini menempatkan angka kerawanan pangan Kabupaten Banjar berada di bawah batas maksimal target tahunan (5,6%).
Hal ini dicapai melalui kolaborasi lintas SKPD untuk perbaikan infrastruktur jalan, penyediaan air bersih, hingga pemberian stimulus ekonomi kepada masyarakat desa.
Keberhasilan di usia ke-76 ini tidak lepas dari berbagai terobosan modern. Mengatasi krisis regenerasi petani, Dinas Pertanian menjalankan program YESS dan Batumbang Tani Manis untuk mencetak petani milenial. Melalui program Optimasi Lahan (OPLA) dan Cetak Sawah Rakyat, dibentuklah Brigade Pangan yang dibekali Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) canggih bantuan Kementerian.
Tidak hanya traktor, combine harvester, dan rice transplanter, Kabupaten Banjar kini mulai mengimplementasikan penggunaan drone pertanian untuk penanaman (penaburan benih), penyemprotan gulma dan pemupukan.
“Saat ini drone baru digunakan di lokasi CSR seperti Sungai Tabuk dan Martapura Barat. Tahun depan kami merencanakan pelatihan sertifikasi pilot drone agar penggunaannya makin optimal,” tambah Nurul.
Sementara itu, untuk menjaga stabilitas pangan, DKPP Kabupaten Banjar meluncurkan sederet inovasi unggulan, di antaranya:
Kaka Mapan (Kampung Kami Mandiri Pangan): Program motivasi bagi desa untuk mencapai predikat Desa Mandiri Pangan.
I-Padaringan: Platform digital terpadu untuk memantau pergerakan harga bahan pokok secara real-time di pasar, yang menjadi barometer kebijakan intervensi pemerintah seperti Operasi Pasar.
Beling (Beras Keliling): Armada mobil keliling yang mendistribusikan beras murah bersubsidi langsung ke pemukiman warga untuk menstabilkan harga di tingkat lokal.
Berkat komitmen keras tersebut, Kabupaten Banjar dianugerahi penghargaan Terbaik II se-Kalimantan Selatan untuk evaluasi Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Ketersediaan Pangan Tahun 2025.
Menghadapi tantangan cuaca ekstrem, Pemkab Banjar juga telah menyiapkan langkah mitigasi. Untuk mengatasi kemarau yang sempat berdampak pada sekitar 584 hektar lahan, pemerintah menyediakan bantuan pompanisasi dan mengedukasi petani agar beralih ke varietas padi berumur pendek. Selain itu, pemerintah juga menjamin ketersediaan benih melalui usulan bantuan untuk lahan seluas 6.800 hektar (program OPLA) dan 625 hektar (program PMAAS).
Dengan sinergi antara modernisasi pertanian, mitigasi bencana yang adaptif, serta program distribusi yang merata, Kabupaten Banjar di usianya yang ke-76 telah membuktikan diri tidak hanya sebagai lumbung padi, tetapi juga pionir ketahanan pangan masa depan di Kalimantan Selatan.




