BANJARBARU – Kepadatan antrean kendaraan terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Jalan A. Yani KM 34, Loktabat Utara, Banjarbaru, pada Sabtu siang. Di tengah terik matahari pukul 12.00 WITA (22/11/2025), para pengendara sepeda motor dihadapkan pada dua pilihan sulit: tetap menunggu pasokan Pertamax yang terbatas atau beralih ke Pertalite dengan risiko gangguan performa mesin atau brebet.
Keluhan konsumen tidak hanya berfokus pada kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax, tetapi juga menyoroti manajemen antrean serta minimnya fasilitas pelayanan di SPBU tersebut.
Valentine, salah seorang pengendara motor yang turut mengantre, menyampaikan kekecewaannya terhadap standar pelayanan yang dinilai tidak setara jika dibandingkan dengan wilayah lain, khususnya di Pulau Jawa.
”Sangat tidak nyaman. Jika di Jawa terdapat petugas SPBU yang memberikan apresiasi berupa permen atau tisu basah sebagaimana kerap terlihat di media sosial, di sini pelayanan tersebut tidak tersedia. Kami hanya terpapar panas saat mengantre,” ujarnya.
Valentine mengaku telah tertahan lebih dari 20 menit karena petugas menginformasikan bahwa stok Pertamax sedang dalam proses bongkar muat. Meskipun jalur Pertalite tersedia sejak awal, ia memilih bertahan demi mendapatkan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih tinggi.
Selain durasi tunggu yang lama, Valentine juga mengkritik mekanisme pengaturan antrean oleh petugas SPBU yang dinilai kurang memperhatikan jalur sepeda motor.
”Kritik saya, petugas kurang mengurus antrean motor dan lebih fokus pada antrean mobil. Akibatnya, antrean motor menjadi tidak tertib. Terdapat pengendara yang menyerobot sehingga sesama pemotor harus saling menegur,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa saat kedatangannya, antrean mobil sempat meluap hingga ke badan jalan raya, meskipun situasi tersebut berangsur kondusif menjelang siang.
Di sisi lain, faktor kelelahan fisik akibat cuaca panas membuat sebagian pengendara mengambil keputusan pragmatis. Rivaldi, pengendara motor lainnya, memutuskan beralih menggunakan Pertalite meskipun dibayangi kekhawatiran mengenai kualitas pembakaran mesin.
”Antreannya sangat panjang, membuat saya enggan menunggu untuk mengisi Pertamax, sehingga saya memutuskan mengisi Pertalite saja,” ungkap Rivaldi.
Keputusan ini diambil dengan kesadaran penuh akan risiko. Rivaldi mengakui adanya isu gangguan mesin tersendat (brebet) yang santer terdengar belakangan ini akibat penggunaan jenis bahan bakar tertentu.
”Memang terdapat risiko motor menjadi tersendat, rekan saya sudah ada yang mengalaminya. Namun, saya tidak bersedia menunggu lama di bawah terik matahari demi bahan bakar yang harganya lebih tinggi,” tambahnya.
Meskipun sejauh ini kendaraannya beroperasi normal menggunakan Pertalite, Rivaldi menegaskan bahwa pilihannya didasari oleh faktor efisiensi ekonomi dan kondisi lapangan, bukan karena rekomendasi kualitas.
”Sejauh ini penggunaan Pertalite masih aman, namun ini saya lakukan karena ingin berhemat. Jika memiliki dana lebih, sebaiknya memilih kualitas yang lebih baik. Jangan mengikuti langkah saya,” pungkasnya.
Situasi di SPBU KM 34 Banjarbaru ini menjadi refleksi kegelisahan konsumen di tengah isu kualitas bahan bakar dan manajemen distribusi yang dinilai belum optimal di wilayah Kalimantan Selatan.


