SAMARINDA. Kanker serviks bagi kaum wanita memang menjadi momok yang menakutkan. Apalagi berdasarkan penelitian yang ada, setiap satu jam wanita di Indoneska meninggal akibat penyakit ini.
Hal itu dikutip dari Ahli Kandungan dan Kebidanan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Alfaina Wahyuni dalam studi penelitiannya.
Sehingga, pencegahan sangat perlu dilakukan sejak awal agar dapat ditangani dengan serius. Sebab apabila terlambar kemungkinan harapan hidup akan semakin kecil.
Menyikapi hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim pun bekerjasama dengan BUMN dalam hal ini Bio Farma untuk menciptakan upaya pencegahan melalui deteksi dini.
Dimana kini pengecekan bisa langsung dilakukan hanya dengan mengetes urine tanpa harus melakukan pemeriksaan pada organ vital.
Dinkes Kaltim pun melakukan sosialisasi inovasi pemeriksaan Human Papillomavirus (HPV) demi mendeteksi kangker serviks bagi para ibu dan perempuan.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin menyampaikan, saat ini dalam mendeteksi adanya Kanker Serviks bagi para ibu dan perempuan sudah bisa dilakukan dengan menggunakan sampel air kencing atau urine.
“Karena pemeriksaan biasanya yang konvensional harus dilakukan dengan membuka kelamin kemudian memasukkan alat pendeteksi,” ujarnya pada awak media, Senin (22/1) kemarin.
Dirinya menjelaskan, pemeriksaan dengan menggunakan air kencing tentu lebih cepat dan praktis sehingga tidak menyulitkan ibu-ibu dalam mendeteksi adanya gejala Kanker Serviks.
“Hal ini tentu lebih nyaman, dan kita juga undang ibu-ibu mulai dari PKK, Dharmawanita, Bhayangkari, serta gerakan wanita dari elemen masyarakat untuk mengetahui teknologi tersebut,” ungkapnya.
Jaya mengucapkan, pada awalnya para ibu atau perempuan ini banyak yang tidak mau untuk melakukan pemeriksaan Kanker Serviks karena proses pemeriksaan yang cukup memberatkan.
“Maka dari itu sekarang pemeriksaan kangker leher rahim sudah sangat mudah dan cepat, dan ini menjadi program pemerintah sehingga tidak ada lagi yang mengatakan malu dan sebagainya, karena tidak lagi membuka alat kelamin,” bebernya.
Selain itu, dalam mendorong perihal tersebut, Dinkes ingin Pemprov Kaltim bisa turut serta mendukung sehingga deteksi Kanker Serviks bagi para ibu dan perempuan bisa dilakukan sejak dini.
Terkait data penyebab kematian dari pengidap Kanker Serviks di Kaltim menurut Jaya hampir 50 persen.
“Jadi di Indonesia ada sekitar 36.633 orang pengidap kanker dan yang meninggal karena kangker serviks hampir 18 ribu pertahun,” jelasnya.
Makanya menurut Jaya, peningkatan fasilitas kesehatan di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda dan Rumah Sakit Kanujoso, Balikpapan sudah disediakan alat diagnostik serta terapi untuk para pengidap Kanker Serviks.
“Alat ini kita siapkan dan rata-rata banyak di kunjungi ibu-ibu yang mengidap Kanker Serviks,” terangnya.
Dia juga mengutarakan, faktor resiko Kanker Serviks ini pertama diidap oleh ibu-ibu yang tidak menikah atau janda.
“Kemudian juga karena faktor resiko lainnya yang disebabkan oleh virus human papilloma, diakibatkan infeksi dari hubungan seks yang tidak sehat,” terangnya.
Jaya mengungkapkan, mengapa ibu-ibu sangat rentan sekali mengidap penyakit tersebut karena di perempuan itu ada hormon estrogen dan progesteron.
“Lalu ada hormon prolaktin dan oksitosin. Jika hormon-hormon ini tidak seimbang maka bisa mengakibatkan gejala Kanker Serviks,” tuturnya.
Jaya mengungkapkan, dalam menghindari penyakit tersebut seorang perempuan harus menyeimbangkan hormon-hormon yang ada secara lahiriah, mulai dari melahirkan hingga menyusui.
“Maka dari itu kebanyakan memang pengidap Kanker Serviks diderita oleh para perempuan atau ibu-ibu yang belum menikah,” pungkasnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Marketing Biofarma, Drajat alamsyah menyebut bahwa metode ini merupakan hal yang baru ditemukan oleh pihaknya.
Sebagai BUMN, tentunya harga yang akan diberikan kepada pemerintah akan jauh lebih murah. Sehingga upaya deteksi dinipun bisa segera dilakukan.
“Jadi ini produk semua asli dari Indonesia dan kita akan menyebarkan informasi ini ke provinsi lainnya. Jadi Kaltim termasuk yang pertama di Kalimantan, ” bebernya.
Drajat menjelaskan, satu kota yang sudah mencoba alat dari Bio Farma ini ialah Balikpapan. Dimana akurat pemeriksaan dirasa cukup baik sehingga mampu mengundang para wanita untuk melakukan pengecekan awal.
“Kami berharap apa yang dilakukan ini bisa disambut baik dan bekerjasama dengan baik juga. Tujuan utama kami ialah memberikan deteksi dini dan upaya menyehatkan wanita Indonesia juga melalui upaya pencegahan, ” pungkasnya.
