KUALA KAPUAS – Di tengah kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih berdampak terhadap sejumlah wilayah, Pemerintah Kabupaten Kapuas turun langsung menemui masyarakat sekaligus menyalurkan bantuan pangan.
Bupati Kapuas H. Muhammad Wiyatno bersama rombongan mengunjungi Kecamatan Kapuas Murung, Dadahup hingga Mantangai, Jumat (2/10/2026). Selain menyerahkan bantuan, kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk melihat langsung kondisi wilayah serta mendengarkan kebutuhan masyarakat.
Bupati didampingi Sekda Kapuas Usis I. Sangkai, Wakil Ketua I DPRD Kapuas Yohanes, Asisten II Setda Kapuas Kusmiatie, Asisten III Setda Kapuas Fery Noah serta sejumlah kepala OPD.
Rangkaian kunjungan diawali Safari Jumat di Masjid Su’ada, Kelurahan Palingkau Baru, Kecamatan Kapuas Murung. Setelah salat Jumat, Bupati berdialog dengan pengurus masjid sekaligus menyerahkan bantuan untuk mendukung kebutuhan masjid.
Dari Palingkau Baru, rombongan kemudian bergerak ke sejumlah desa dan kelurahan untuk menyerahkan bantuan pangan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan dan Karhutla.
Bupati Wiyatno mengajak masyarakat dan seluruh pihak memperkuat upaya pencegahan kebakaran. Menurutnya, dampak Karhutla tidak hanya dirasakan dari kerusakan lahan, tetapi juga mengganggu kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat akibat kabut asap.
“Saya berharap dengan kondisi Karhutla ini kita bisa bersama-sama berupaya meminimalisir kebakaran. Dampaknya luar biasa, seperti yang kita lihat sendiri yang seharusnya terang dan cerah, tetapi diselimuti kabut,” ujar Wiyatno.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak sekaligus menjadi bentuk kehadiran pemerintah di tengah kondisi sulit.
“Mudah-mudahan bantuan ini ada manfaat dan berkahnya buat Bapak-Ibu sekalian,” katanya.
Pemkab Kapuas sebelumnya juga telah menyalurkan bantuan ke sejumlah wilayah non-pasang surut, seperti Kecamatan Timpah dan Pujon. Penyaluran selanjutnya akan diarahkan ke wilayah lain yang membutuhkan, termasuk kawasan pasang surut Tamban Catur dan Lupak.
Namun kunjungan Bupati tidak hanya berkaitan dengan penanganan dampak Karhutla. Di tengah penyerahan bantuan, Wiyatno juga memaparkan rencana pembangunan yang menyasar desa-desa dengan kebutuhan infrastruktur yang masih tinggi.
Salah satu program yang disorot adalah alokasi sekitar Rp1 miliar untuk satu desa yang mulai berjalan pada 2026. Wiyatno mengatakan program tersebut diharapkan dapat ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapan kita yang akan datang bisa lebih dari 1 miliar satu desa. Desa-desa mana yang membutuhkan perhatian lebih, silakan kepala desa berkomunikasi dengan OPD dan DPRD,” jelasnya.
Pada tahun sebelumnya, Pemkab Kapuas mengalokasikan sekitar Rp245 miliar untuk 231 desa dan 17 kelurahan. Ke depan, pemerintah daerah menargetkan anggaran tersebut meningkat hingga sekitar Rp350 miliar.
Menurut Wiyatno, perhatian lebih akan diberikan kepada desa-desa di kawasan pesisir, pantai maupun pedalaman yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
“Harapan kita tidak ada yang tertinggal di tahun 2027,” tegasnya.
Palingkau Lama dan Palingkau Baru menjadi salah satu wilayah yang disebut membutuhkan perhatian. Dua wilayah di Kecamatan Kapuas Murung yang berbatasan dengan Kabupaten Barito Kuala tersebut masih menghadapi persoalan konektivitas jalan.
Wiyatno mengatakan, besaran dukungan pembangunan untuk desa tertentu nantinya dapat ditingkatkan menyesuaikan tingkat kebutuhan.
“Tempat-tempat seperti itulah yang nanti program 1 miliar satu desanya akan kita lebihkan. Bisa jadi Palingkau Lama 3 miliar dan Palingkau Baru 3 miliar, sehingga kedua wilayah tersebut bisa terhubung dan transportasi darat dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Selain pembangunan desa, Pemkab Kapuas juga menyiapkan peningkatan konektivitas antarkecamatan hingga akses menuju wilayah kabupaten.
Rencana tersebut turut terlihat dalam kunjungan Bupati ke Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai. Di desa itu, Wiyatno berdialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan aspirasi dan persoalan pembangunan yang mereka hadapi.
Usai berdiskusi, rombongan bersiap meninjau langsung kondisi jalan dari Mantangai menuju Timpah.
“Dari Katunjung kita nanti langsung naik sepeda motor sampai ke Timpah. Ada sekitar 140 kilometer antara Mantangai dengan Kecamatan Timpah. Mudah-mudahan tahun 2027 dan 2028 mobil sudah bisa lewat sana,” ujarnya.
Pembukaan akses tersebut dinilai penting karena dapat memangkas jalur perjalanan masyarakat dari Pasak Telawang, Pujon dan Timpah menuju Kuala Kapuas. Selama ini, perjalanan menuju Kuala Kapuas harus memutar melalui Palangka Raya dan Pulang Pisau.
Untuk mendukung peningkatan akses tersebut, Kabupaten Kapuas pada 2026 mendapatkan dukungan anggaran sekitar Rp25 miliar dari Balai Jalan Nasional. Salah satu penggunaannya diarahkan untuk penanganan dan peningkatan ruas jalan Mantangai-Timpah.
Wiyatno menyebut kondisi medan di sejumlah titik membutuhkan penanganan khusus. Sebagian kawasan memiliki kontur tanah rendah dan bergambut yang menghadirkan tantangan berbeda pada musim kemarau dan musim hujan.
Saat kemarau, kawasan tersebut rawan terbakar, sedangkan ketika hujan sejumlah titik berpotensi terendam.
“Makanya kita bersama rombongan menginap di Katunjung, pagi kita naik motor langsung ke Timpah. Kita ingin melihat langsung kondisi yang ada di sana sehingga penanganan seperti apa yang akan kita laksanakan, kita bisa melihat secara langsung,” pungkasnya.
Adapun bantuan pangan yang disalurkan dalam kunjungan tersebut terdiri dari 1.194 paket untuk Kelurahan Palingkau Lama, Desa Dadahup 168 paket, Bina Jaya 204 paket, Bentuk Jaya 288 paket, Harapan Baru 310 paket, Sumber Alaska 101 paket, Mantangai Tengah 446 paket, Mantangai Hilir 425 paket, Mantangai Hulu 336 paket, Katunjung 68 paket dan Tumbang Mangkutup 81 paket.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan warga yang terdampak kekeringan dan Karhutla. Sementara kunjungan ke Katunjung menjadi bagian dari upaya Pemkab Kapuas menyusun kebijakan pembangunan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.


