BANJARMASIN –Cerita-cerita mistis yang selama ini hidup dari mulut ke mulut di Kalimantan Selatan akhirnya menemukan panggung barunya.
Empat urban legend Banua resmi diadaptasi menjadi film pendek melalui program Banua Film Fund 2025, yang ditayangkan perdana di Bioskop KCM Belda Banjarmasin.
Program ini menjadi momentum penting bagi sineas lokal untuk memperkenalkan kisah-kisah horor khas Kalsel ke publik yang lebih luas.
Ketua Penyelenggara Banua Film Fund 2025, Ade Hidayat, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari kegelisahan sekaligus keinginan untuk menyelamatkan kekayaan folklore yang lama tersembunyi.
“Dari hasil riset, saya menemukan ada 16 urban legend di Kalimantan Selatan. Tahun ini kami memproduksi empat film terpilih dari puluhan proposal yang masuk. Kami ingin cerita-cerita Banua juga terdengar secara nasional,” ujar Ade.
Menurutnya, tingginya animo masyarakat terhadap film horor di Indonesia seharusnya membuka peluang besar bagi cerita lokal untuk tampil.

Sayangnya, legenda Kalsel belum banyak mendapat ruang, meskipun belakangan mulai dikenal lewat fenomena Saranjana, Kuyang, dan Pirunduk yang sedang digarap.
“Potensinya luar biasa. Empat film ini baru langkah awal untuk menghadirkan urban legend Banua dengan kemasan visual modern,” tambah Ade.
Empat film yang diproduksi tahun ini meliputi Suruh Aja Gin – Mamen Film, Gagampiran – Miniatur Production, Sisigan Kariau Sima – Ruang Aktor dan Pulasit – DMJ Project.
Keempatnya melalui proses kurasi ketat sebelum masuk tahap produksi dan akhirnya diputar pada sesi premiere.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Iwan Fitriady, yang turut hadir dalam penayangan perdana, memberikan apresiasi atas kualitas karya para sineas Banua.
“Saya menonton Sisigan Kariau Sima. Dengan durasi yang singkat, alurnya mengejutkan dan eksekusinya rapi. Ini menunjukkan talenta perfilman lokal kita berkembang,” ujarnya.
Iwan juga menegaskan bahwa program seperti Banua Film Fund sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendongkrak sektor ekonomi kreatif.
“Premier hari ini membuktikan ekraf kita hidup dan bergerak. Pemerintah akan terus memberikan ruang dan dukungan kepada sineas Banua,” tegasnya.
Dengan kehadiran empat film pendek ini, Banua Film Fund 2025 diharapkan menjadi pintu pembuka bagi lebih banyak cerita mistis khas Kalimantan Selatan untuk tampil ke layar, sekaligus memperkuat identitas daerah dalam industri film nasional.


