Menakar Cuan dan Risiko Budidaya Patin di Bumi Selamat, Jauhar Rachman Bagikan Strategi Sukses
HABARKALIMANTAN – MARTAPURA – Kabupaten Banjar, khususnya wilayah Martapura, sejak lama dikenal sebagai lumbung ikan air tawar di Kalimantan Selatan. Salah satu komoditas primadona yang terus bertahan adalah ikan patin. Namun, di balik gurihnya keuntungan, bisnis ini menyimpan risiko tinggi yang menuntut ketelatenan ekstra.
Jauhar Rachman, seorang pemilik kolam budidaya patin di Martapura, membagikan pengalamannya dalam mengelola usaha yang telah menjadi urat nadi ekonomi warga lokal ini.
Menurut Rachman, potensi keuntungan dari budidaya patin terletak pada serapan pasar yang stabil. Ikan patin merupakan bahan baku utama berbagai kuliner khas Kalsel, mulai dari warung makan tenda hingga restoran besar.
“Patin ini pasarnya luas. Selain untuk konsumsi lokal dalam bentuk segar, permintaan dari luar daerah juga tinggi. Jika dikelola dengan benar, perputarannya sangat menjanjikan,” ujar Rachman saat ditemui di area kolamnya.
Beberapa keunggulan budidaya patin antara lain:
Pertumbuhan Cepat: Dalam waktu 6 hingga 8 bulan, patin sudah bisa mencapai ukuran konsumsi yang ideal.
Daya Tahan: Dibandingkan beberapa jenis ikan lain, patin relatif lebih tahan terhadap fluktuasi kondisi air selama oksigen tercukupi.
Risiko: Pakan Mahal dan Ancaman Penyakit
Namun, Rachman mengingatkan bahwa pembudidaya tidak boleh lengah. Tantangan terbesar dalam bisnis ini adalah biaya pakan yang terus membengkak. Hampir 70-80% biaya produksi tersedot untuk pembelian pelet.
“Risiko utama adalah harga pakan yang fluktuatif cenderung naik, sementara harga jual ikan di tingkat pembudidaya terkadang tidak stabil. Kita harus pintar mencari celah agar margin keuntungan tidak tergerus,” jelasnya.
Selain masalah pakan, faktor alam juga menjadi risiko yang menghantui:
Kualitas Air: Perubahan cuaca ekstrem dapat menurunkan kadar oksigen di kolam yang memicu kematian massal.
Serangan Penyakit: Bakteri dan jamur seringkali menyerang bibit ikan jika sanitasi kolam tidak terjaga.
Hama: Predator alami maupun gangguan teknis lainnya yang bisa mengurangi jumlah panen secara signifikan.
Bagi masyarakat yang ingin terjun ke bisnis ini, Rachman memberikan beberapa tips kunci. Pertama, pemilihan bibit unggul sangat menentukan hasil akhir. Kedua, pengaturan pola makan yang efisien agar tidak banyak pakan yang terbuang (FCR – Feed Conversion Ratio yang baik).
“Kuncinya adalah kedisiplinan. Kita harus memantau kondisi air setiap hari dan memahami karakter ikan. Jangan hanya ikut-ikutan tanpa membekali diri dengan ilmu budidaya yang benar,” pungkas Rachman.
Keberhasilan Jauhar Rachman di Martapura menjadi bukti bahwa dengan manajemen risiko yang tepat, budidaya patin tetap menjadi peluang emas di sektor perikanan Kabupaten Banjar.



