Gema Shalawat dan Bekal Fiqih Puasa: Rutan Marabahan Gandeng Kemenag Batola Perkuat Karakter Warga Binaan
MARABAHAN – Suasana religius menyelimuti Masjid Al Mujahiddin Rutan Kelas IIB Marabahan pada Selasa (24/2). Ratusan Warga Binaan tampak khusyuk mengikuti rangkaian pembinaan kepribadian yang dikemas melalui lantunan shalawat dan tausiyah keagamaan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Rutan Marabahan dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Acara dibuka dengan penampilan memukau dari grup habsyi yang seluruh anggotanya merupakan Warga Binaan Rutan Marabahan. Gemuruh tabuhan terbang dan lantunan shalawat tidak hanya menghadirkan suasana tenang, tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan Rutan dalam membina bakat dan minat para penghuninya di bidang seni religi.
Menyongsong bulan suci, Ustadz Abdul Hamid dari Kemenag Batola hadir memberikan pembekalan fiqih puasa. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa ibadah puasa harus didasari pada pemahaman syariat yang benar agar tidak sekadar menjadi kegiatan menahan lapar dan dahaga.
“Puasa juga berarti menjaga lisan, pandangan, serta perilaku. Memahami rukun puasa, mulai dari niat hingga menahan diri dari hal yang membatalkan, adalah kunci agar ibadah kita sah dan bernilai pahala,” pesan Ustadz Abdul Hamid di hadapan jamaah.
Pemahaman agama yang kuat diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih disiplin dan bertakwa selama menjalani masa pembinaan.
Antusiasme terlihat dari salah satu Warga Binaan berinisial MH. Ia mengaku bersyukur karena program rutin ini memberikannya kesempatan untuk terus memperbaiki diri lewat ilmu agama.
“Alhamdulillah, penjelasan tentang rukun puasa tadi membuat kami lebih paham bagaimana menjalankan ibadah dengan benar sekaligus memetik maknanya,” ungkap MH.
Kepala Rutan Marabahan, I Wayan Tapa Diambara, mengapresiasi dukungan penuh dari Kemenag Batola dalam menyukseskan program ini. Menurutnya, pembinaan keagamaan adalah pilar utama dalam transformasi perilaku Warga Binaan.
“Kami berharap ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di dalam Rutan, tetapi mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah mereka kembali ke masyarakat nanti,” pungkas Wayan.


