Kabupaten Banjar – Upaya penanganan masalah gizi anak terus didorong dengan pendekatan yang lebih dekat ke akar persoalan, yakni keluarga. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menghadirkan inovasi tersebut melalui Program Bina Desa Berdampak bertajuk JELITA (Jejaring Literasi) untuk Ibu dan Bapak di Desa Mandiangin Barat, Kecamatan Karang Intan.
Program yang digagas oleh 10 mahasiswa lintas Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian ini difokuskan pada pemberdayaan keluarga dalam mencegah dan menangani kasus underweight pada anak. Kegiatan dilaksanakan dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan, Hadrianti H.D. Lasari, SKM., MPH.
Ketua tim, Muhammad Hefni Camali, menjelaskan bahwa program ini merupakan penguatan dari intervensi sebelumnya saat Pengalaman Belajar Lapangan (PBL). Berdasarkan hasil identifikasi awal, masalah gizi anak masih menjadi isu krusial di tingkat rumah tangga.
“Kami melihat penanganan underweight tidak cukup hanya dengan edukasi sesaat. Perlu pendekatan berkelanjutan yang melibatkan peran aktif keluarga, khususnya orang tua dalam pemenuhan gizi anak,” ujarnya.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim merancang Program JELITA dalam lima rangkaian kegiatan utama, meliputi sosialisasi, kelas literasi gizi untuk ibu dan ayah, kelas “Ayah Peduli Gizi”, pendampingan keluarga, serta lokakarya dan diseminasi hasil. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara bertahap sepanjang Desember 2025 dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama.
Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah pemanfaatan pangan lokal sebagai solusi gizi. Mahasiswa menggelar pelatihan dan demonstrasi memasak berbahan dasar pakis dan ikan haruan yang diolah secara modern, praktis, dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Tak hanya itu, sebagai bentuk keberlanjutan program, tim juga menyusun dan membagikan buku resep inovasi pangan bergizi kepada para peserta agar dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Respons masyarakat pun tergolong sangat tinggi. Tingkat kehadiran warga dalam setiap kegiatan mencapai 100 persen, bahkan melampaui target. Para orang tua, baik ibu maupun ayah, terlibat aktif dalam sesi edukasi hingga praktik memasak.
Program ini tidak hanya memberikan dampak bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Mereka mengintegrasikan ilmu kesehatan dan pertanian dalam satu pendekatan komprehensif, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, analisis masalah, dan strategi intervensi berbasis komunitas.
Bagi masyarakat Desa Mandiangin Barat, program ini diharapkan mampu meningkatkan literasi gizi, keterampilan mengolah pangan lokal, serta memperkuat peran keluarga dalam menjaga status gizi anak.
ULM menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan inisiatif ini melalui skema Bina Desa Berdampak, sekaligus mendorong desa untuk melanjutkan praktik baik yang telah diperkenalkan. Dengan pendekatan berbasis keluarga, Program JELITA diproyeksikan menjadi model intervensi gizi komunitas yang adaptif, berkelanjutan, dan relevan dengan potensi lokal.
