BerandaDPRD KaltimAgusriansyah Ridwan Dorong Strategi...

Agusriansyah Ridwan Dorong Strategi Pembangunan SDM Kaltim Hadapi Bonus Demografi dan Tantangan Masa Depan

Terbaru

Di tengah gegap gempita pembangunan besar yang melanda Kalimantan Timur, terutama dengan digalakkannya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), suara kritis namun membangun datang dari Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan. Ia menyoroti satu aspek fundamental yang kerap luput dari perhatian ketika proyek-proyek fisik mendominasi wacana pembangunan: manusia dan masa depannya.

Menurut Agus, di balik segala potensi sumber daya alam dan infrastruktur megah yang sedang digagas, kekuatan sejati Kalimantan Timur justru terletak pada manusia, khususnya generasi mudanya. Bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ke depan harus dilihat sebagai peluang emas yang tidak boleh disia-siakan.

“Bonus demografi bukan sekadar istilah dalam dokumen perencanaan. Ini adalah kenyataan yang sedang kita hadapi. Kalau tidak ada persiapan matang, kita hanya akan menjadi penonton di tanah kita sendiri,” ucap Agus dengan nada tegas.

Ia menekankan bahwa menyongsong puncak bonus demografi, Kalimantan Timur memerlukan pendekatan kebijakan yang menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Pemerintah daerah, menurutnya, harus mengambil peran utama dalam memastikan generasi muda siap menghadapi persaingan, baik dalam skala nasional maupun global. Jika tidak, peluang besar ini bisa berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

Agus menyoroti pentingnya regulasi yang berpihak pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal. Regulasi tersebut harus mampu memberikan jaminan perlindungan sekaligus ruang pengembangan potensi bagi pemuda Kaltim. Ia mengkritisi kecenderungan kebijakan yang terlalu terpusat di kota-kota besar dan menyarankan adanya redistribusi program ke wilayah-wilayah terpencil yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

“Pemerintah harus membuat regulasi yang kuat dan berpihak pada SDM lokal. Ini bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban konstitusional,” ujarnya.

Selain regulasi, Agus juga menekankan pentingnya dukungan infrastruktur sosial dan ekonomi, terutama di bidang pendidikan, pelatihan keterampilan, akses terhadap teknologi digital, hingga ketersediaan modal usaha. Semua elemen ini, menurutnya, merupakan prasyarat untuk membentuk generasi muda yang produktif, kreatif, dan mandiri.

“Jangan hanya bicara pendidikan di atas kertas. Kita harus bicara akses ke pendidikan yang merata, pelatihan vokasi yang menjawab kebutuhan pasar kerja, serta peluang berwirausaha yang nyata,” tambahnya.

Ia juga mengkritisi potensi eksklusivitas pembangunan di sekitar kawasan IKN. Menurut Agus, Ibu Kota Nusantara memang merupakan proyek nasional yang strategis, namun semangat pembangunan tidak boleh berhenti hanya di sekitar kawasan tersebut. Pemerataan pembangunan harus menjadi misi utama, agar seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur dapat menikmati hasil transformasi yang tengah berjalan.

“Pembangunan jangan hanya berputar di sekitar IKN. Kita harus pastikan bahwa Kutai Timur, Berau, Mahakam Ulu, Paser, Penajam, dan daerah lainnya juga merasakan manfaatnya secara nyata,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Agus mengusulkan agar semangat pemerataan pembangunan dan pemberdayaan pemuda dimasukkan secara eksplisit ke dalam rencana strategis (renstra) dan rencana kerja tahunan (renja) seluruh perangkat daerah. Ia menyebut sektor pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, pariwisata, dan infrastruktur sebagai pilar-pilar utama yang harus dijadikan prioritas investasi sumber daya.

Bagi Agus, investasi terbaik adalah investasi pada manusia. Ia meyakini bahwa tanpa kebijakan yang berpihak dan dukungan sistemik, bonus demografi hanya akan menjadi angka statistik yang tidak membawa perubahan nyata.

“Kita tidak sedang bicara soal proyek jangka pendek. Kita bicara tentang warisan kebijakan yang akan menentukan nasib Kalimantan Timur 20 hingga 30 tahun ke depan,” katanya dengan penuh keyakinan.

Sebagai penutup, Agusriansyah menyampaikan harapannya agar para pengambil keputusan tidak terjebak pada pencitraan dan seremonial pembangunan. Ia mengajak semua pihak untuk melihat jauh ke depan dan menjadikan generasi muda sebagai pusat dari semua upaya pembangunan.

“Kalau kita mempersiapkan dengan serius dan sungguh-sungguh, maka generasi emas 2045 bukanlah utopia. Ia bisa kita wujudkan mulai dari sekarang,” tutupnya.

Dengan semangat dan visi jangka panjang, Agusriansyah Ridwan menempatkan generasi muda Kalimantan Timur di garis depan agenda pembangunan. Sebuah pendekatan yang tidak hanya mengedepankan infrastruktur fisik, tapi juga menanamkan fondasi kokoh bagi keberlanjutan daerah yang tengah menuju babak baru dalam sejarahnya. (adv)

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka