Ancaman Kemarau Panjang di Kab. Banjar: 206 Hektare Sawah Terkena Dampak, Produktivitas Padi Berpotensi Merosot
MARTAPURA – Datangnya musim kemarau yang lebih awal dan diprediksi berlangsung lebih lama mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Dinas Pertanian setempat kini bersiap mengantisipasi penurunan volume hasil panen padi seiring meluasnya areal sawah yang mengering.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kemarau tahun ini dinilai berisiko sama atau bahkan lebih kering ketimbang tahun 2025. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah, menjelaskan bahwa ancaman utama yang membayangi saat ini bukanlah kekhawatiran gagal panen total (puso), melainkan merosotnya produktivitas padi, terutama jenis varietas lokal berumur panjang.
”Padi lokal umumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan hingga panen. Jika jadwal tanam tidak sesuai dengan kondisi cuaca, tanaman berisiko mengalami kekurangan air saat fase penting pertumbuhan,” ujarnya.
Sebagian besar petani di Kabupaten Banjar memang masih mengandalkan varietas padi lokal tradisional karena diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi keluarga sehari-hari. Padahal, saat ini sudah tersedia pilihan varietas lokal unggul yang masa panennya jauh lebih singkat berkisar antara 3,5 hingga 4 bulan sehingga lebih tahan menghadapi risiko musim kering.
Catatan terbaru dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) menunjukkan setidaknya 206 hektare lahan pertanian telah terdampak kekeringan. Kendati belum ada laporan puso, wilayah Kecamatan Beruntung Baru, Martapura Barat, dan Martapura Timur menjadi area yang paling terdampak.
Kondisi terbilang mengkhawatirkan di Kecamatan Beruntung Baru lantaran tanaman padi di sana rata-rata telah memasuki masa generatif atau mendekati masa panen. Kelangkaan air pada fase pengisian bulir ini berisiko membuat bulir tidak terisi sempurna, yang berujung pada penurunan bobot hasil panen.
”Yang kami khawatirkan bukan gagal panen, tetapi produksi akan turun dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Adapun pertanaman yang terkena dampak merupakan tanaman yang mulai ditanam pada rentang April hingga Juni. Tanaman dari periode tanam Oktober hingga Maret terhitung aman karena sudah lebih dulu dipanen.
Dinas Pertanian mengimbau para petani untuk tetap waspada mengingat potensi perluasan area kekeringan masih terbuka. Beberapa kawasan seperti Kecamatan Mataraman dan Simpang Empat dilaporkan mulai menunjukkan indikasi kekeringan, ditandai dengan tanah sawah yang retak-retak, meski belum sampai pada tingkat kerusakan berat.
Sebagai langkah mitigasi, pendampingan kepada para petani serta optimalisasi pompa air terus dipacu. Pemerintah daerah memaksimalkan 219 unit pompa air yang telah disalurkan pada 2024, sembari menunggu pengajuan bantuan 225 unit pompa tambahan ke Kementerian Pertanian. Seluruh fasilitas pompa yang ada, baik dari bantuan pemerintah maupun program CSR, diharapkan bekerja optimal untuk mengamankan ketersediaan air dan menekan penyusutan hasil panen.
