Atasi Dampak Kabut Asap di Kalsel, HKTI Siap Sokong Operasional Relawan Pemadam
BANJARBARU – Fenomena kemarau panjang yang memicu kekeringan serta kabut asap di Kalimantan Selatan (Kalsel) memantik simpati dan langkah nyata dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Dalam acara pelantikan pengurus DPC HKTI se-Kalsel yang digelar di Grand Qin Hotel Banjarbaru, Minggu (20/9/2026) sore, Anggota DPR RI yang juga menjabat sebagai Steering Committee HKTI Kalsel, H. Muhammad Rofiqi, memastikan bahwa organisasinya akan hadir mendukung para relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selama ini berjuang di garis depan.
Langkah turun gunung ini merupakan bentuk tindak lanjut atas instruksi langsung dari Sekretaris Jenderal HKTI agar jajaran di daerah segera merespons krisis lingkungan tersebut.
“Kami mendapat instruksi untuk membantu, terutama wilayah Kalsel yang terkena bencana asap. Kita tahu beberapa bulan ini belum ada hujan sama sekali,” ujar Rofiqi.
Rofiqi sendiri bukanlah orang baru di dunia kerelawanan. Pengalamannya sebagai pimpinan Relawan Buser 690 Banjar periode 2020–2025 membuatnya sangat paham akan kerasnya perjuangan tim pemadam di lapangan. Ia secara khusus menyoroti kondisi di Kabupaten Banjar, di mana dampaknya sangat parah namun minim perhatian anggaran dari pusat, sehingga relawan harus merogoh kocek sendiri untuk operasional.
“Saya tahu kondisi di lapangan bagaimana relawan berjuang tanpa tanda jasa. Kabupaten Banjar itu salah satu yang terdampak paling parah, bahkan tidak mendapat dana sepeser pun dari pusat. Semua yang dilakukan di lapangan adalah dana pribadi dari relawan,” ungkapnya.
Melihat beban berat yang harus dipikul para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut, HKTI Kalsel menyatakan kesiapannya untuk turun tangan memberikan bantuan operasional agar proses pemadaman api dapat terus berjalan.
“Kami mendapat arahan dari Pak Sekjen agar ikut juga membantu. Walaupun tidak bisa maksimal, tapi kami pasti akan membantu,” tegas Rofiqi.
Melalui dukungan ini, HKTI Kalsel berharap dapat meringankan beban mandiri yang selama ini ditanggung para relawan. Selain itu, langkah ini diharapkan mampu menjadi pemantik sinergi bagi pihak-pihak lain untuk bersama-sama menanggulangi bencana kabut asap yang masih mengancam wilayah Kalimantan Selatan.

