Dampak Kabut Asap Karhutla di Banjar: RSUD Ratu Zalecha Tangani Ratusan Kasus Pneumonia
MARTAPURA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengiringi datangnya musim kemarau mulai berdampak pada kesehatan warga Kabupaten Banjar. RSUD Ratu Zalecha melaporkan adanya tren kenaikan pada pasien yang menderita gangguan pernapasan, meski lonjakan tersebut masih tergolong terkendali dibandingkan krisis kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan rekam medis RSUD Ratu Zalecha, sepanjang periode Januari hingga awal Agustus 2026, akumulasi pasien pneumonia telah menyentuh angka 383 kasus. Sebanyak 59 kasus di antaranya baru tercatat sejak pertengahan Juli 2026 saat intensitas kemarau mulai meningkat.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ratu Zalecha, drg. Rahimayanti, memaparkan bahwa tidak semua pasien infeksi saluran pernapasan dilarikan ke rumah sakit. Mayoritas keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah berhasil diselesaikan pada tingkat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
“Kasus ISPA sebagian besar selesai ditangani di puskesmas atau klinik. Pasien yang dirujuk ke rumah sakit tipe B seperti RSUD Ratu Zalecha umumnya sudah mengarah ke pneumonia atau memiliki penyakit penyerta lainnya, sehingga ISPA bukan lagi diagnosis utamanya,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Berkat kesigapan puskesmas dan klinik dalam memberikan pertolongan pertama, RSUD tidak mengalami penumpukan pasien akibat dampak udara buruk.
“Memang ada peningkatan, tetapi tidak terlalu signifikan. Penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah cukup cepat sehingga dampaknya tidak sebesar kejadian kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.
Menurunnya kualitas udara akibat paparan asap sangat berpotensi memicu gejala klinis seperti pilek, batuk, hingga kesulitan bernapas. Selain masalah paru-paru, musim kemarau juga diiringi dengan naiknya angka pasien diare. Namun, grafik kenaikan penyakit pencernaan ini terpantau seirama dengan kasus pneumonia dan belum masuk dalam kategori lonjakan drastis.
Kondisi lingkungan saat ini membutuhkan kewaspadaan ekstra, terutama bagi kelompok usia yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah, seperti lansia, balita, serta bayi.
Sebagai bentuk antisipasi, masyarakat didorong untuk memperketat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mencuci tangan sesuai standar medis dan memakai pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar rumah menjadi sangat krusial di tengah ancaman kabut asap.
“Pencegahan tetap menjadi langkah utama. Biasakan mencuci tangan dengan benar dan gunakan masker saat berada di daerah yang banyak asap agar saluran pernapasan lebih terlindungi,” pungkasnya.
