BerandaDPRD KaltimFuad Fakhruddin Serukan Dukungan...

Fuad Fakhruddin Serukan Dukungan Serius untuk Relawan Kemanusiaan di Samarinda

Terbaru

Kota Samarinda selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah di Kalimantan Timur yang kerap berhadapan dengan berbagai bencana alam, terutama banjir. Fenomena ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di kota tersebut, dengan intensitas bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, kondisi geografis, serta pembangunan yang belum sepenuhnya ramah lingkungan. Dalam menghadapi tantangan ini, peran instansi pemerintah memang penting, tetapi tidak bisa diabaikan bahwa terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang secara sukarela turun langsung ke lapangan untuk memberikan bantuan dan pertolongan—yakni para relawan kemanusiaan.

Di tengah segala keterbatasan yang ada, relawan-relawan ini justru menjadi pihak pertama yang merespons ketika terjadi bencana. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa seragam resmi, dan tanpa fasilitas memadai, namun keberadaan mereka sangat vital bagi sistem tanggap darurat yang ada di Samarinda. Melihat kenyataan ini, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur, Fuad Fakhruddin, menyuarakan pentingnya perhatian serius terhadap peran para relawan tersebut.

Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Kota Samarinda, Fuad mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi para relawan yang sering kali turun langsung ke lokasi bencana tanpa perlengkapan memadai. Ia menyatakan bahwa selama ini relawan menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya dalam hal alat keselamatan dan perlengkapan penyelamatan. Padahal, mereka adalah garda terdepan dalam penanganan awal bencana sebelum bantuan resmi dari pemerintah tiba.

“Di banyak wilayah dapil saya, saya menyaksikan langsung bagaimana relawan berjuang dengan alat seadanya. Mereka menyusuri genangan air, mengevakuasi warga, hingga mendistribusikan bantuan, semuanya dilakukan dengan semangat kemanusiaan yang tinggi. Namun mereka tetap manusia yang juga punya batas kemampuan. Di situlah pentingnya dukungan dari pemerintah,” ujar Fuad.

Menurutnya, dukungan terhadap relawan kemanusiaan tidak boleh hanya berupa kata-kata atau sekadar pujian simbolis. Ia menegaskan bahwa bentuk penghargaan yang paling nyata terhadap pengabdian mereka adalah dengan menyediakan alat-alat keselamatan dan perlengkapan yang sesuai standar. Langkah ini tidak hanya akan membantu relawan bekerja lebih efektif, tetapi juga akan mengurangi risiko keselamatan mereka saat berada di tengah situasi darurat.

“Memberikan perlengkapan bukan hanya soal bantuan, tapi soal mengakui bahwa mereka adalah bagian penting dari sistem penanggulangan bencana. Kita tidak boleh membiarkan mereka bertarung sendirian di lapangan tanpa pelindung yang layak,” katanya.

Lebih lanjut, Fuad menyampaikan bahwa kepedulian terhadap relawan harus menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih menyeluruh. Sebagai anggota Komisi IV yang membidangi urusan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat, ia menegaskan bahwa perhatian kepada relawan tidak boleh mengabaikan sektor-sektor lain. Semua aspek tersebut harus berjalan secara seimbang dan saling mendukung agar pembangunan benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang selama ini bergerak di luar sistem formal namun memberikan kontribusi luar biasa.

“Kita ingin menciptakan masyarakat yang tangguh. Tapi itu tidak bisa terjadi kalau orang-orang yang menjadi ujung tombak saat krisis datang justru tidak kita perhatikan. Relawan adalah bagian dari solusi, dan mereka layak mendapatkan tempat dalam prioritas pembangunan,” ujarnya penuh semangat.

Fuad juga menyatakan kesiapannya untuk memperjuangkan alokasi anggaran di DPRD guna memastikan kebutuhan dasar relawan, seperti jaket pelindung, perahu karet, alat komunikasi darurat, hingga pelatihan penyelamatan, bisa dipenuhi oleh pemerintah daerah. Ia melihat ini sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya menyelamatkan nyawa saat bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat Samarinda secara umum.

Dengan dorongan ini, Fuad berharap kota Samarinda dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal penanganan bencana berbasis komunitas dan partisipasi masyarakat. Ia meyakini bahwa ketika seluruh elemen—baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat umum—bekerja dalam semangat gotong royong, maka kota ini akan jauh lebih siap dalam menghadapi bencana apapun di masa depan.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan bencana datang, tapi kita bisa menyiapkan siapa yang akan bergerak lebih dulu saat itu terjadi. Dan relawan adalah orang-orang itu. Sudah saatnya mereka diberi dukungan layak,” tutup Fuad dengan penuh keyakinan.

Seruan Fuad ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang manusiawi harus dimulai dengan memperhatikan mereka yang berada di garis depan pengabdian, meski sering luput dari sorotan dan anggaran formal pemerintahan. (adv)

Trending Minggu Ini

Kamu mungkin juga suka