Banjarmasin – Di tengah rutinitas padat sebagai mahasiswa Program Profesi Dokter, Gastin Gabriel Jangkang tak pernah berhenti bermimpi besar. Ketertarikannya pada isu lingkungan sejak awal kuliah kini membawanya melangkah jauh, bahkan hingga ke Negeri Sakura. Pada 2025 ini, Gastin terpilih sebagai satu dari tujuh delegasi Indonesia dalam JENESYS 2025 ASEAN-Japan Students Conference, sebuah forum prestisius yang mempertemukan pemuda terbaik dari 11 negara ASEAN dan Timor Leste.
Bagi Gastin, kesempatan ini bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi juga ruang untuk menyuarakan keresahan dan harapannya terhadap masa depan lingkungan – khususnya lahan basah Kalimantan Selatan yang selama ini menjadi fokus risetnya.
“Rasanya luar biasa bisa membawa nama Indonesia dan ULM sampai ke forum internasional. Saya ingin menunjukkan bahwa pemuda Indonesia punya gagasan kuat tentang isu global,” ujarnya dengan mata berbinar.
Jejak Inovasi yang Dimulai dari Masalah Sehari-hari
Perjalanan Gastin di dunia inovasi bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Sejak duduk di bangku kuliah, ia sudah akrab dengan laboratorium, riset, dan kompetisi ilmiah. Salah satu idenya yang cukup dikenal ialah konsep penampungan air bawah tanah yang ia presentasikan di PIMNAS. Ide itu berangkat dari keresahannya melihat banyak daerah kesulitan air bersih saat musim kemarau.
Tak berhenti di situ, Gastin juga mengembangkan sabun mandi tanpa bilas—sebuah inovasi sederhana namun penting bagi warga di kawasan bencana yang sulit mengakses air bersih. “Dari penelitian-penelitian itu saya belajar bahwa inovasi bukan soal keren atau rumit, tapi soal manfaat untuk orang lain,” katanya.
Pemikiran inilah yang membuatnya terpilih menyampaikan topik “Climate Change and Disaster Management” di JENESYS 2025. Ia akan berkolaborasi dengan delegasi dari Universitas Gadjah Mada untuk merancang rekomendasi solusi terkait perubahan iklim dan mitigasi bencana di Asia Tenggara.
Mengangkat Lahan Basah ke Kancah Internasional
Di Jepang nanti, Gastin membawa misi khusus: memperkenalkan isu lahan basah Kalimantan Selatan. Baginya, ekosistem rawa dan gambut bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang kesehatan masyarakat—mulai dari penyebaran penyakit hingga kerentanan terhadap perubahan iklim.
“Lahan basah itu rumah kita. Kalau rusak, dampaknya langsung kita rasakan. Saya ingin dunia tahu bahwa isu lokal kita juga bagian dari masalah global,” ujarnya.
Pertukaran Budaya dan Diplomasi Sasirangan
Selain diskusi dan konferensi, peserta JENESYS akan tinggal bersama keluarga Jepang selama beberapa hari. Bagi Gastin, ini adalah kesempatan memperkenalkan budaya Banjar. Ia bahkan telah menyiapkan kain sasirangan, kebanggaan Kalimantan Selatan, sebagai buah tangan sekaligus materi diplomasi budaya.
“Saya ingin mereka tahu warna-warni Kalimantan Selatan, tidak hanya lewat cerita, tapi juga lewat budaya,” ungkapnya.
Segudang Prestasi yang Menjadi Pondasi
Nama Gastin cukup bersinar di kampus dan berbagai kompetisi. Pada 2023, ia meraih Juara Harapan I Pilmapres Nasional. Ia juga menjadi awardee IISMA ke Malaysia dan mengikuti program student exchange Harvard di Thailand pada 2024. Hingga kini, tercatat 71 prestasi ia kantongi, mulai dari level nasional hingga internasional.
Bagi ULM, capaian Gastin menjadi bukti bahwa mahasiswa dari daerah juga memiliki daya saing global. Rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasinya. “Kami selalu mendukung mahasiswa yang ingin berkiprah di tingkat dunia. Ini sejalan dengan visi ULM mencetak lulusan berwawasan internasional,” ujarnya.
ULM pun memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa berprestasi, termasuk Gastin yang saat ini menjalani program profesi dokter tanpa biaya.
Mimpi, Perjalanan, dan Harapan
Keberangkatan Gastin ke Jepang bukan hanya cerita tentang prestasi, melainkan tentang perjalanan seorang mahasiswa yang berangkat dari keresahan terhadap masalah lingkungan di daerahnya. Kini, ia membawa keresahan itu ke ruang diplomasi internasional, berharap bisa memantik perubahan.
“Kalau kita tidak berani menyuarakan sesuatu, siapa lagi?” kata Gastin.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kisah Gastin menjadi pengingat bahwa perubahan besar kadang dimulai dari satu langkah kecil, dari satu suara pemuda, dari satu kampus di Kalimantan Selatan.


