Banjarmasin – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar audiensi dengan Pharos Marine dalam agenda Response to Collaboration Inquiry and Meeting Confirmation pada Senin, 8 Desember 2025, bertempat di Fakultas Pertanian ULM. Pertemuan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama terkait pengembangan teknologi ramah lingkungan yang berpotensi diterapkan pada moda transportasi sungai di Kalimantan Selatan.
Audiensi ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari Fakultas Pertanian (Faperta), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), serta Kepala UPA Lab Bahasa, UPA LLB, PPLH, Tim Kantor Urusan Internasional (KUI), dan Tim MBKT. Keterlibatan banyak unit ini mencerminkan keseriusan ULM dalam membuka ruang kolaborasi strategis lintas disiplin.
Perwakilan Pharos Marine, Joe, menyampaikan bahwa tujuan kedatangan mereka ke Banjarmasin adalah untuk memperkenalkan profil perusahaan sekaligus melihat peluang kerja sama.
“Kedatangan kami ke Banjarmasin yakni dalam rangka melakukan penilaian lokasi (site assessment) untuk melihat apakah kota ini cocok untuk menjalankan program yang kami jalankan di Vietnam, apakah perairan sungai di sini mirip dengan yang ada di Vietnam. Mengingat Banjarmasin terkenal sebagai kota seribu sungai,” ujarnya dalam Bahasa Inggris.
Dalam pertemuan tersebut, Pharos Marine memaparkan sejumlah peralatan dan teknologi ramah lingkungan yang berpotensi diterapkan pada jukung atau kelotok, transportasi tradisional masyarakat sungai di Kalimantan. Teknologi tersebut dinilai dapat mendukung pengurangan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi transportasi berbasis air.
Dekan Fakultas Teknik ULM, Prof. Dr. Ir. Iphan Fitrian Radam, S.T., M.T., IPU., menyoroti sejumlah aspek yang perlu dikaji sebelum teknologi tersebut dapat diimplementasikan.
“Menarik bahwa ada poin carbon income generation dari pemanfaatan teknologi ini. Tapi kita juga harus mempertimbangkan keadaan sungai kita. Teknologi ini akan sangat bermanfaat jika mampu beroperasi di perairan sungai dangkal,” jelasnya.
Masukan lainnya juga disampaikan oleh akademisi dari bidang perikanan dan kelautan, teknik, hingga pertanian. Seluruh pandangan menegaskan pentingnya memahami konteks ekologis dan geografis Kalimantan Selatan, mengingat karakteristik sungai di daerah ini—khususnya di Banjarmasin—memiliki kedalaman, topografi, dan pola aliran yang khas sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan transportasi masyarakat.
Melalui audiensi ini, ULM memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif menjalin kolaborasi internasional dan mendorong pengembangan teknologi berkelanjutan. Pertemuan ini sekaligus menjadi langkah awal dalam menghubungkan kebutuhan lokal—terutama terkait sistem transportasi sungai—dengan inovasi global yang relevan.
Ke depannya, ULM berharap penjajakan kerja sama ini dapat berkembang menjadi proyek nyata yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kalimantan Selatan.


